Posted by: hajirikhusyuk | Januari 17, 2010

Pengertian makrifat

    

  

Dari Anta:  

Solo the spirit of Islam  

Pengertian makrifat  

Perkara yang wajib dima’rifati (dikenal secara utuh) dari tentang Alloh:  

1 . Eksistensi Dzat-Nya.
2. Eksistensi Sifat-Sifat-Nya.
3. Eksistensi Asma-Nya.
4. Eksistensi Af’al-Nya.
5. Eksistensi Rububiyah-Nya.
6. Eksistensi Mulkiyah-Nya, dan
7. Eksistensi Uluhiyah-Nya.
  

1.         Eksistensi Dzat Alloh.  

Dzat Alloh itu hanya ada satu, tidak dua, tidak tiga, dst. Langit dan bumi beserta seluruh isinya; manusia, hewan, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, bintang, planet, orang Islam, kristen, hindu, budha,koh hu cu dan lain-lain; tuhannya hanya satu, yakni Alloh Qs 112:1-4  

Mungkinkah… planet bumi yang hanya ada satu ini tuhannya lebih dari satu….?  

Tidak ada sesuatupun yang memiliki titik sama seruapa, atau semisal dengan bentuk dan dimensi Dzat Alloh sehingga keberadaan; bentuk, dan dimensi Dzat Alloh tidak akan pernah terbayang oleh akal dan tidak akan pernah tersirat dalam hati.. Akan tetapi keberadaan Dzat Alloh akan bisa ditemukan hanya oleh Hamba-Nya yang memiliki Qolbun Salim (Hati atau Jiwa Yang Bersih), yakni bersih dari kemusyrikan.  

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Bentuk Dzat) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.
Dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan (dimensi Dzat) Dia Qs 112:4.  

2.    Eksistensi Sifat Alloh  

Keberadaan Sifat Alloh adalah melekat pada Dzat-Nya. Sifat Alloh yang wajib diyakini oleh kita ada 13, yakni;
(1) WUJUD, artinya; Ada. Keberadaan Dzat Alloh tidak ada awalnya dan tidak ada yang menciptakan-Nyapertama kali. Jika keberadaan Dzat Alloh ada permulaan-Nya, maka berarti harus ada Dzat yang menciptakan pertama kali (DAOR); jika hal tersebut terjadi, maka berarti keberadaan Dzat Alloh itu LEMAH, jika Alloh Lemah maka MUSTAHIL.
(2) QIDAM, artinya; Terdahulu, dimana terdahulunya Dzat Alloh tidak ada Dzat yang menciptakan-Nya dan tidak ada awal-Nya. Jika keberadaan Dzat Alloh itu ada awal-Nya. maka keberadaan Dzat Alloh sangat membutuhkan terhadap Dzat yang telah mengadakan pertama kalinya, jika hal tersebut terjadi, maka berarti keberadaan Dzat Alloh itu bersifat LEMAH, Jika Alloh Lemah… maka itu mah bukan TUHAN.
(3) BAQO, artinya; Kekal, kekal-Nya Dzat Alloh tidak ada awal-Nya dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(4) MUKHOLAFATULIL HAWADITS, artinya; Berbeda dengan sesuatu. Keberadaan Dzat Alloh tidak ada titik sama dengan sesuatu apa pun. Tidak ada sestupun yang serupa, semisal atau setara dengan keberadaan Dzat Alloh.
(5) QIYAMUHU BINAFSIH, artinya; Berdiri sendiri, Keberadaan atau eksistensi Dzat Alloh tidak memerlukan pihak lain untuk mengadakan diri-Nya, dan tidak memerlukan tempat untuk bertempat tinggal/bernaung/berlindung.
(6) WAHDANIYAT, artinya; Satu, Dzat Tuhan itu hanya ada satu, yakni Alloh saja. Diluar Alloh bukan Tuhan tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan.
(7) QUDROT, artinya; Kuasa, keberadaan Dzat Alloh ialah berkuasa penuh untuk mengadakan dan mentiadakan segala sesuatu. Kekuasaan Alloh itu tidak ada awal-Nya, tidak kadang-kadang kuasa dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(8) IRODAH, artinya Berkehendak, Keberadaan Dzat Alloh memiliki kehendak, keinginan, rencana (Program), Setiap kehendak, keinginan, rencana atau program Alloh pasti terjadi, tidak akan pernah gagal.
(9) ILMU, artinya Mengetahui, Pengetahuan Dzat Alloh bukan hasil belajar/riset, tidak ada awal-nya dan tidak akan pernah ada akhirnya.
(10) HAYAT, artinya; Hidup, Hidup-Nya Dzat Alloh tidak ada awal-Nya, tidak ada yang menghidupkan dan tidak akan pernah ada akhir-Nya.
(11) BASHOR, artinya; Melihat-Nya Dzat Alloh tidak terbatas oleh tempat, ruang dan waktu. Karena melihat.-Nya Dzat Alloh bukan dengan indra mata, tapi dengan sifat SAMA-NYA DIA.
(12) SAMA, artinya; Mendengar-Nya Dzat Alloh tidak terbatas oleh tempat, ruang dan waktu. Karena melndengar.-Nya Dzat Alloh bukan dengan indra telinga, tapi dengan sifat BASHOR-NYA DIA.
(13) KALAM, artinya Berbicara. Berbicara-Nya Dzat Alloh bukan dengan suara, isyarat atau kode, tapi dengan sifat KALAM-NYA DIA.  

Kesimpulan:
TIDAK ADA SESUATU PUN YANG MEMILIKI TITIK SAMA DENGAN SIFAT-SIFAT YANG DIMILIKI OLEH DZAT ALLOH DENGAN SELURUH KESEMPURNAAN-NYA.
  

3.       Makrifat Terhadap Eksistensi Asma Alloh (Mengenal Nama-Nama Alloh).  


1. Lafadz Alloh adalah merupakan nama Tuhan Sang Pencipta, Pemilik, Penggenggam, Pemelihara, Pengurus, Pengatur, Pengendali dan Penguasa Alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Tidak ada Tuhan kecuali Alloh dan diluar Alloh namanya bukan Tuhan, tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan. Dan seluruh Kitab Suci yang telah diwahyukan kepada Para Rosul-Nya, menerangkan bahwa nama Tuhan itu ialah Alloh Qs 13:16. Alloh ialah satu-satunya Raja yang hak di abdi, dipuja, diagungkan, disanjung, dijadikan kekasih dan yang hak dijadikan idola oleh setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi ini. Adapun untuk nama-nama lain dari Alloh yang ada dalam Asma’ul Husna, maka menunjukkan pula keberadaan sifat yang melekat pada Dzat Alloh dan merupakan kata berita yang menerangkan tentang keberadaan Sifat-Sifat Alloh.

2. Ar-Rohman (Maha Pengasih) Qs 2:163 / 13:30 / 20:5,109 / 50:33 / 78:38 .
3. Ar-Rohim (Maha Penyayang) Qs 1:3 / 4:64 / 27:30 / 34:2.
4. Al-Malik (Maha Merajai) Qs 3:26 / 59:23.
5. Al-Quddus (Maha Berih dari Noda dan Cacat) Qs 59:23 / 62:1.
6. As-Salam (Maha Penyelamat) Qs 59:23.
7. Al-Mu’min (Maha Pemelihara Keamanan) Qs 59:23.
8. Al-Muhaimin (Maha Penjaga) Qs 5:48 / 59:23.
9. Al-Aziz (Maha Perkasa) Qs 3:4 / 11:66 / 27:9 / 38:66 / 54:42 / 59:23.
10. Al-Jabbar (Maha Agung) Qs 59:23 .
11. Al-Mutakabbir (Maha Megah / Maha Angkuh) Qs 59:23.
12. Al-Kholiq (Maha Pencipta) Qs 6:102 / 15:28 / 40:62.
13. Al-Bari (Maha Pembuat) Qs 2:54 / 59:23.
14. Al-Mushowwir (Maha Pembentuk) Qs 3:6 / 40:64 / 59:24
15. Al-Ghoffar (Maha Pengampun) Qs 38:66 / 39:5 / 71:10.
16. Al-Qohhar (Maha Pemaksa) Qs 13:16 / 38:65 / 39:4.
17. Al-Wahhab (Maha Pemberi) Qs 3:8 / 38:9.
18. Al-Rozzak (Maha Pemberi Rizki) Qs 51:58.
19. Al-Fattah (Maha Membukakan) Qs 34:26.
20. Al-‘Alim (Maha Mengetahui) Qs 2:181,247 / 3:35 / 6:13.
21. Al-Qobidl (Maha Menggenggam dan Menahan) Qs 2:245.
22. Al-Basit (Maha Meluaskan / Melepaskan) Qs 17:30.
23. Al-Khofid (Maha Menjatuhkan / Merendahkan) Qs 56:23.
24. Ar-Rofi (Maha Mengangkat) Qs 2:253 / 3:55 / 58:11.
25. Al-Mu’iz (Maha Memberi Kemuliaan) Qs 3:26.
26. Al-Mudzil (Maha Memberi Kehinaan) Qs 3:26.
27. As-Sami’ (Maha Mendengar) Qs 2:181 / 6:13 / 17:1 / 40:20,56.
28. Al-Bashir (Maha Melihat) Qs 4:58 / 17:71 / 40:20,56 / 67:59.
29. Al-Hakam (Maha Penetap Hukum) Qs 5:58 / 6:114 / 10:109 / 12:40 / 13:41.
30. Al-‘Adlu (Maha Adil).
31. Al-Latif (Maha Halus / Lembut) Qs 6:103 / 12:100 / 67:14.
32. Al-Khobir (Maha Waspada) Qs 6:18,103 / 34:1 / 59:18 / 100:1.
33. Al-Halim (Maha Penghiba / Penyantun) Qs 9:114 / 17:44 / 64:17.
34. Al-‘Azhim (Maha Agung) Qs 3:74 / 56:96 / 69:52.
35. Al-Ghofur (Maha Kaya) Qs 2:235 / 34:2 / 48:14 / 64:14.
36. Asy-Syakur (Maha Pembalas) Qs 35:30 / 64:17.
37. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) Qs 2:255 / 4:34 / 22:62 / 40:12.
38. Al-Kabir (Maha Besar) Qs 13:9 / 22:62 / 40:12.
39. Al-Hafizh (Maha Pemelihara) Qs 11:57 / 12:64 / 42:6 / 50:52.
40. Al-Mukit (Maha Memberi Kecukupan).
41. Al-Hasib (Maha Penghitung) Qs 4:6 / 6:62.
42. Al-Jalil (Maha Luhur) Qs 55:27.
43. Al-Karim (Maha Pemurah) Qs 27:40.
44. Ar-Roqib (Maha Peneliti / Mengawasi) Qs 4:1 / 33:52.
45. Al-Mujid (Maha Mengabulkan) Qs 2:186 / 11:61 / 37:35.
46. Al-Wasi (Maha Luas) Qs 2:247 / 3:73 / 24:32.
47. Al-Hakim (Maha Bijaksana) Qs 6:83 / 11:1 / 95:8 / 27:9 / 34:1 / 39:1.
48. Al-Wadud (Maha Mengasihi) Qs 11:90 / 85:14.
49. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 11:73 / 85:15.
50. Al-Ba’its (Maha Membangkitkan) Qs 2:56 / 16:84 / 16:89.
51. Asy-Syahid (Maha Menyaksikan) Qs 33:55 / 34:47.
52. Al-Haq (Maha Benar) Qs 22:62 / 31:30.
53. Al-Wakil (Maha Memelihara Penyerahan) Qs 4:81 / 17:65.
54. Al-Qowiy (Maha Kuat) Qs 8:52 / 11:66 / 57:25.
55. Al-Mathin (Maha Kokoh) Qs 7:183 / 51:58 / 68:45.
56. Al-Waliy (Maha Melindungi) Qs 4:45 / 42:28 / 33:17.
57. Al-Hamid (Maha Terpuji) Qs 11:73 / 14:1 / 42:28.
58. Al-Muhshi (Maha Menghitung / Menghisab) Qs 19:94 / 72:28.
59. Al-Mubdi (Maha Memulai) Qs 33:37 / 85:13.
60. Al-Mu’id (Maha Mengulangi) Qs 85:13.
61. Al-Muhyi (Maha Menghidupkan) Qs 30:50 / 44:8.
62. Al-Mumit (Maha Mematikan) Qs 44:8.
63. Al-Hayyu (Maha Hidup) Qs 2:255 / 3:2 / 40:65.
64. Al-Qoyyum (Maha Berdiri Sendiri) Qs 2:255 / 3:2 / 20:111.
65. Al-Wajid (Maha Kaya) Qs 93:6-8.
66. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 85:15.
67. Al-Wahid (Maha Esa) Qs 13:16 / 21:108 / 38:65.
68. Ash-Shomad (Maha Dibutuhkan) Qs 112:2.
69. Al-Qodir (Maha Kuasa / Maha Berdaulat) Qs 30:50,54 / 6:65 / 10:65.
70. Al-Muqtadir (Maha Menentukan) Qs 18:45.
71. Al-Muqoddim (Maha Mendahulukan) 15:24.
72. Al-Mu’akhir (Maha Mengakhirkan) Qs 15:24 / 11:104.
73. Al-Awwal (Maha Pertama) Qs 57:3.
74. Al-Akhir (Maha Akhir) Qs 57:3.
75. Adz-Dzohir (Maha Nyata) Qs 57:3.
76. Al-Bathin (Maha Tersembunyi) Qs 57:3.
77. Al-Wali (Maha Menguasai / Memimpin) Qs 13:11 / 12:101.
78. Al-Muta’ali (Maha Suci) 13:9.
79. Al-Barri (Maha Dermawan) Qs 52:28.
80. At-Tawwab (Maha Penerima Taubat) Qs 2:54 9:104 / 110:16.
81. Al-Muntaqim (Maha Menyengsarakan) 39:37 / 43:41 / 44:16.
82. Al-‘Afuw (Maha Pemaaf) Qs 4:43,99 / 22:60.
83. Ar-Rouf (Maha Mensejahterakan) Qs 2:207 / 9:117 / 59:10.
84. Al-Malikul Mulk (Maha Menguasai Kerajaan / Pemerintahan) Qs 3:26.
85. Dzul Zalali Wal Ikrom (Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan) Qs 55:27.
86. Al-Muqsith (Maha Mengadili) Qs 3:18.
87. Al-Jami’ (Maha Mengumpulkan) Qs 3:9 / 4:172 / 42:29.
88. Al-Ghoniy (Maha Kaya) Qs 4:131 / 6:133 / 22:64.
89. Al-Mughni (Maha Memberi Kekayaan).
90. Al-Mani’ (Maha Pembela).
91. Ad-Adoru (Maha Mencelakakan) Qs 48:11.
92. An-Nafi’ (Maha Memberi Kesenangan) Qs 48:11.
93. An-Nur (Maha Bercahaya) Qs 39:22.
94. Al-Hadi (Maha Pembimbing) Qs 39:23.
95. Al-Badi (Maha Pembaharu) Qs 2:117.
96. Al-Baqi (Maha Kekal) Qs 55:27.
97. Al-Warits (Maha Pewaris) Qs 15:23 / 21:89.
98. Ar-Rosyid (Maha Cerdik / Maha Pandai) Qs 18:10 / 18:17.
99. As-Shobur (Maha Penyabar) Qs 7:153.
  

Kesimpulan: TIDAK ada sesuatupun yang memiliki titik sama dengan keberadaan Nama-Nama Alloh dengan seluruh keempurnaan-Nya.  

4.       Ma’rifat Eksistensi Af’al Alloh (Mengenal Pekerjaan Alloh).  

Segala sesuatu yang ada dan terjadi di langit maupun di planet bumi ini adalah merupakan buah karya /hasilkerja Alloh SWT.  

Wujud Af’al Alloh ada 2, yaitu;
(1) Af’al Alloh Taqwin / Af’al Alloh Mudthor.  

Yaitu pekerjaan Alloh yang tidak melibatkan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan, memelihara dan mengendalikan langit, bintang, matahari, bulan dan bumi. Atau Alloh menciptakan, memelihara dan mengendalikan ruh, jantung, darah, pernafasan dan alat pencernaan yang ada pada binatang dan manusia.  

(2) Af’al Alloh tasyri / Af’al Alloh Mukhtar.  

Yaitu pekerjaan Alloh yang secara kasad mata kita ada ikutserta dan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan bangunan, rumah, kendaraan, jalan, pakaian, alat tulis dan lain-lain.  

Perkara yang mendukung terwujudnya Af’al Alloh Tasyri atau Af’al Alloh Mukhtar:  

(a)   Adanya Dzat Alloh Yang Berkuasa untuk menciptakan, menggenggam, memelihara dan mengendalikan alam semesta beserta seluruh isinya.
(b) Adanya sumber daya manusia yang telah diciptakan, dipelihara dan dikendalikan tiap organ tubuhnya supaya berfungsi sesuai dengan kehendak dan tujuan Alloh.
(c) Adanya sumber bahan (sumber daya alam) yang telah disediakan oleh Alloh.  

(d) Adanya ide dan ilmu pengetahuan hasil ciptaan Alloh yang kemudian disimpan pada memory akal manusia yang selanjutnya dipelihara dan difungsikan sesuai dengan kehendak-Nya.
(e) Adanya unsur-unsur lain yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia seperti; oksigen, air, makanan, cahaya, gaya grafitasi, suhu, matahari, tumbuhan, daging hewan, ikan (flora dan fauna), dan lain sebagainya yang keseluruhannya itu disediakan dan dikendalikan penuh oleh Alloh SWT.  

Fungsi dan kedudukan Alloh adalah sebagai fa’il (subjek), yakni; yang mengadakan, yang mengerjakan, yang mengendalikan dan yang akan mentiadakan seluruh makhluk. Itulah wujud af’al Alloh. Sedangkan fungsi dan kedudukan makhluk adalah hanyalah sebagai maf’ul (objek), yakni yang diadakan, yang diciptakan, yang dihidupkan, yang dimampukan, yang dikuasakan, yang dipelihara, yang digerakkan dan yang dikendalikan sepenuhnya oleh Alloh Sang Pemilik dan Penguasa langit dan bumi beserta seluruh isinya Qs 10:3,55 / 19:65 / 20:6.  

Kesimpulan: Tidak ada sesuatupun yang mampu untuk menghasilkan atsar kerja atau hasil kerja (af’al) kecuali hanya Alloh saja. Dan tidak ada sesuatupun yang setara, sebanding, serupa atau semisal dengan hasil pekerjaan Alloh (af’al Alloh).  

5.       Makrifat Kepada Rububiyah Alloh.  

Pengertian Rububiyah;  

Kata Rububiyah berasal dari kata; Robb yang secara bahasa merupakan kata kerja dari; Robb-Yarobbu-Robban, yang berarti; Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pemilik.  

(a) Pencipta segala sesuatu;
 Pencipta risalah (ajaran, tuntunan, pedoman dan konsep hidup).
 Pencipta syari’at; aturan / undang-undang danPencipta hukum.
 Pencipta alam semesta beserta seluruhw isinya.
  

(b) Pengatur (Pembuat aturan dan hukum).
(c) Pemelihara.
(d) Pemilik segala sesuatu.
  

Sedangkan kata bendanya adalah Robbun dengan bentuk jamaknya Arbaabun yang berarti; Pemilik, Majikan, Tuan atau Tuhan.  

Jadi yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum untuk dijadikan pedoman dalam manata dan mengatur seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18 / 13:37,41 / 10:37 / 6:57 / 33:36. Jika ada manusia yang menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, tanpa ada otoritas (kewenangan resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76 / 6:112,123.
Ingatlah…!!! Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.
  

Sedangkan orang yang diberi otoritas (kewenangan resmi) oleh Alloh SWT untuk menggulirkan ajaran; aturan dan hukum hasil ciptaan Alloh (Kitabulloh) di bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Pangkat seorang Rosul saja tidak berhak untuk menciptakan ajaran; aturan dan hukum, ia hanya sebatas seorang mandataris Alloh SWT (pengemban amanat dari Alloh SWT). Setelah Rosululloh SAW wafat kemudian mandat (amanat) tersebut dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.  

Kesimpulan: Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat kepada Rububiyah adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Robb (Pengatur; Pencipta aturan dan hukum) baik di langit maupun di planet bumi ini, di luar Alloh status jabatannya bukan sebagai Robb tapi sebagai makhluk yang harus tunduk, patuh dan taat secara totalitas terhadap aturan dan hukum yang telah di sediakan oleh tuhannnya.  

Orang yang meyakini bahwa di luar ada sesuatu yang memiliki fungsi; kedudukan / jabatan sebagai Robb, maka berarti ia sedang dalam keadaan MUSYRIK RUBUBIYAH.  

Sedangkan jika ada orang yang tidak mengakui eksistensi fungsi; kedudukan/jabatan Alloh sebagai Robb, maka ia sedang dalam keadaan KAFIR RUBUBIYAH.  

6.        Makrifat Kepada Eksistensi Mulkiyah Alloh Pengertian Mulkiyah. 

Kata Mulkiyah berasal dari kata Al-Malik, yang berarti; 

(a) Raja Qs 1:4 / 20:114 / 23:116 / 114:2.
Nama lain dari Raja adalah;
  

 Penguasa, (Pemilik dan Pengendali Kekuasaan).
 Pemimpin, (Pucuk Pimpinan / Pimpinan Tertinggi).
 Pemerintah, (Tukang Nitah / Tukang Nyuruh; Kepala Pemerintahan).
  

(b) Lembaga Kerajaan Qs 2:251 / 5:120 / 6:73 / 22:56 / 25:2 / 57:5 / 67:1.
Nama lain dari Lembaga Kerajaan (Mulkiyah) adalah;
 Lembaga Daulah (Lembaga Kekuasaan / Lembaga Kedaulatan) Qs 6:73 / 22:56 / 23:88 / 25:2-3.
 Lembaga Kepemimpinan (Lembaga Khilafah) Qs 38:26.
 Lembaga Pemerintahan (Lembaga Negara) Qs 2:247,251,258.
 
 
 

 

   

  

Ingatlah…!!! Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.  

Jadi yang dimaksud dengan orang Ma’rifat Kepada Mulkiyah adalah ia meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan di Jagat Raya ini dan yang berhak untuk memimpin dan memerintah seluruh makhluk yang ada di dalamnya ialah hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 67:1 / 25:2 / 5:120 / 20:114 / 23:116 / 6:18,61,73 / 10:65.  

Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan dan yang diberi legalitas untuk memimpin dan memerintah di planet bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Yang kemudian dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.  

Jika ada manusia yang mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan kemudian ia memimpin dan memerintah di muka bumi ini tanpa ada legalitas (izin resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76. Mereka inilah yang dimaksud oleh Alloh SWT sebagai pembuat makar (pembuat kejahatan / pemberontak) yang sebenarnya terhadap hak dan kedaulatan Alloh SWT Qs 6:112,123 / 6:61 / 10:65.  

Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat Kepada Mulkiyah Alloh adalah adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Al-Malik (Raja, Penguasa, Pemimpin dan Pemerintah) baik di langit maupun di planet bumi ini, artinya;  

(a)   Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Raja, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Raja tapi yang di rajai oleh Alloh.
(b) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Penguasa, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Penguasa tapi yang di kuasai oleh Alloh.
(c) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pemimpin, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Pemimpin tapi yang di pimpin oleh Alloh
  

(d) Meyakini bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pemerintah atas sesuatu, di luar Alloh status kedudukannya bukan sebagai Pemerintah tapi yang di perintah oleh Alloh.  

Kesimpulan:
Tidak ada Al-Malik (Raja/Pengusa/Pimpinan/Pemerintah) yang berhak untuk eksis baikdilangit maupun di muka bumi ini kecuali Alloh saja.
  

Jika ada orang yang meyakini bahwa di luar Dzat Alloh ada manusia atau ada sesuatu yang memiliki fungsi; kedudukan/jabatan sebagai AL-MALIK, Maka berarti ia dalam keadaan MUSYRIK MULKIYAH.  

Sedangkan jika ada orang yang menolak eksistensi Mulkiyah Alloh (Kerajaan Islam/ Pemerintahan Islam), maka ia sedang alam Kafir terhadap Mulkiyah Alloh, seperti halnya Abu jahal Cs  

7.         Makrifat Kepada Uluhiyah Alloh Pengertian Uluhiyah. 

Kata Uluhiyah berasal dari kata; Aliha – Ya’lahu – Ilaahan, yang berarti; yang dicintai, yang ditaati, yang dijadikan tempat pengabdian (tempat ibadah) dan yang dijadikan tujuan hidup. 

Jagi yang dimaksud dengan Ma’rifat Kepada Uluhiyah Alloh adalah ia meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk ditaati aturan dan kebijakan hukum-hukumnya oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini adalah hanyalah hak Alloh saja Qs 16:52 / 39:11 / 40:14,65 / 3:18 / 6:3 / 17:44 / 22:18 / 24:41 / 7:59,206 / 16:2,49 / 40:62-66 / 18:110 / 20:14 / 21:25 / 98:5.  

Jika ada makhluk atau manusia atau siapa saja yang meminta dirinya supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya, maka itulah yang dimaksud dengan Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya hanya-lah Rosululloh SAW dan Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini, selain itu tidak ada lagi yang diberi legalitas (Izin resmi) oleh Alloh SWT…..!!! Qs 3:32,132 / 4:59,69,80 / 8:20,24,46 / 6:36.  

Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat Kepada Uluhiyah Alloh adalah ia menyakini bahwa hanya Alloh saja satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Al-ILAH (Yang Ditaati / Yang Dijadikan Tempat Pengabdian) oleh seluruh makhluk baik yang ada di langit maupun di planet bumi ini.  

TAMAT  

   

About these ads

Responses

  1. Ma`rifat, Sifat-sifat Orang Arif dan Hakikatnya

    Untuk menuju status orang-orang beriman harus melalui tahapan Ma rifat
    Adapun iman yang ditasdiq di hati, tidak bisa tasdiq kalau tidak mengenal Allah..
    tasdiq adalah adalah hasil dari pada pengenalan/
    Ma rifat, akan mustahil bisa tasdiq di hati kalau belum kenal / sama dengan
    Menasdigkan buah simala kama yaitu hayal / palsu angan-angan. Koreksilah pengenalan.

    Abu Said al Kharraz rahimahullah pernah ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia menjawab, “Ma’rifat itu datang lewat dua sisi: Pertama, dari anugerah Kedermawanan Allah langsung, dan kedua, dari mengerahkan segala kemampuan atau yang lebih dikenal sebagai usaha (kasab) seorang hamba.”

    Sementara itu Abu Turab an-Nakhsyabi – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang yang arif, lalu ia menjawab, “Orang arif adalah orang yang tidak terkotori oleh apa saja, sementara segala sesuatu akan menjadi jernih karenanya.”
    Ahmad bin ‘Atha’ – rahimahullah – berkata, “Ma’rifat itu ada dua: Ma’rifat al-Haq dan ma’rifat hakikat. Adapun ma’rifat al-Haq adalah ma’rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-nama dan Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya. Sedangkan ma’rifat hakikat, tak ada jalan untuk menuju ke sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan makhluk)-Nya, dan mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Karena Allah telah berfirman:
    “Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi (memahami secara detail) Ilmu-Nya”.” (Q.s. Thaha: 110).

    Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskan:
    Makna ucapan Ahmad bin’Atha’, “Tak ada jalan menuju ke sana,” yakni ma’rifat (mengetahui) secara hakiki. Sebab Allah telah menampakkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya kepada makhluk-Nya, dimana Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka. Sebab untuk tahu dan ma’rifat secara hakiki tidak akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma’rifat-Nya tidak akan sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya.

    Lalu siapa yang sanggup ma’rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?
    Oleh karenanya ada orang berkata, “Tak ada selain Dia yang sanggup mengetahui-Nya, dan tak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri. Sebab Kemahaagungan dan Keabadian (ash-Shamadiyyah) tak mungkin dapat dipahami secara detail. Allah swt. berfirman:
    “Dan mereka tidak mengetahui apa apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”.” (Q.s. al-Baqarah: 255).

    Sejalan dengan makna ini, ada riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata, “Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya.”
    Asy-Syibli – rahimahullah – pernah ditanya, “Kapan seorang arif berada dalam tempat kesaksian al-Haq?”
    Ia menjawab, “Tatkala Dzat Yang menyaksikan tampak, dan bukti-bukti fenomena alam yang menjadi saksi telah fana’ (sirna) indera dan perasaan pun menjadi hilang.”

    “Apa awal dari masalah ini dan apa pula akhirnya?”
    Ia menjawab, “Awalnya adalah ma’rifat dan ujungnya adalah mentauhidkan-Nya.”
    Ia melanjutkan, “Salah satu dari tanda ma’rifat adalah melihat dirinya berada dalam ‘Genggaman’ Dzat Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain dari ma’rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma’rifat dengan-Nya tentu akan mencintai-Nya.”

    Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami – rahimahullah – pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia menjawab, “Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Jika air itu anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih. Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna hitam. Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya.”

    Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskannya: Artinya, – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa kadar kejernihan air itu akan sangat bergantung pada sifat dan warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Akan tetapi warna benda yang ditempatinya tidak akan pernah berhasil mengubah kejernihan dan kondisi asli air itu. Orang yang melihatnya mungkin mengira, bahwa air itu berwarna putih atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan aslinya. Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika “bersama” Allah Azza wa jalla dalam segala hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya “bersama” Allah adalah dalam satu makna.

    Al-junaid – rahimahullah – pernah ditanya tentang rasionalitas orang-orang arif (al-’arifin). Kemudian ia menjawab, “Mereka lenyap dari kungkungan sifat-sifat yang diberikan oleh orang-orang yang memberi sifat.”
    Sebagian dari para tokoh Sufi ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia menjawab, “Adalah kemampuan hati nurani untuk melihat kelembutan-kelembutan apa yang diberitahukan-Nya, karena ia telah menauhidkan-Nya.”

    Al-Junaid – rahimahullah – ditanya, “Wahai Abu al-Qasim, (nama lain dari panggilan al-junaid, pent.). apa kebutuhan orang-orang arif kepada Allah?”
    Ia menjawab, “Kebutuhan mereka kepada-Nya adalah perlindungan dan pemeliharaan-Nya pada mereka.”

    Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi – rahimahullah – berkata, “Akan tetapi mereka tidak membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun. Sebab tanpa membutuhkan dan memilih, mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa yang bisa dilakukan orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat Yang mewujudkannya.”

    Muhammad bin al-Mufadhdhal juga pernah ditanya, ” Apa yang dibutuhkan orang-orang arif?”
    Ia menjawabnya, “Mereka membutuhkan moral (akhlak) yang dengannya semua kebaikan bisa sempurna, dan ketika moral tersebut hilang, maka segala kejelekan akan menjadi jelek seluruhnya. Akhlak itu adalah istiqamah.”
    Yahya bin Mu’adz – rahimahullah – ditanya tentang sifat orang arif, maka ia menjawab, “Ia bisa masuk di kalangan orang banyak, namun ia terpisah dengan mereka.”

    Dalam kesempatan lain ia ditanya lagi tentang orang yang arif, maka ia menjawab, “Ialah seorang hamba yang ada (di tengah-tengah orang banyak) lalu ia terpisah dengan mereka.”
    Abu al-Husain an-Nuri – rahimahullah – ditanya, “Bagaimana Dia tidak bisa dipahami dengan akal, sementara Dia tidak dapat diketahui kecuali dengan akal”

    Ia menjawab, “Bagaimana sesuatu yang memiliki batas bisa memahami Dzat Yang tanpa batas, atau bagaimana sesuatu yang memiliki kekurangan bisa memahami Dzat Yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali, atau bagaimana seorang bisa membayangkan kondisi bagaimana terhadap Dzat Yang membuat kemampuan imajinasi itu sendiri, atau bagaimana orang bisa menentukan ‘di mana’ terhadap Dzat Yang menentukan ruang dan tempat itu sendiri. Demikian pula Yang menjadikan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir tentu tidak bisa diketahui mana yang pertama dan mana yang terakhir.”

    Kemudian ia melanjutkannya, “Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun. Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan (’ubudiyyah). Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, ‘Kun’ (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan.”

    Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri, “mengetahui-Nya secara langsung,” ialah langsung dengan yakin dan kesaksian hati nurani akan hakikat-hakikat keimanan tentang hal-hal yang gaib.

    Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah swt. Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat. Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. – dan hanya Allah Yang Mahatahu-.

    Ahmad bin Atha’ – rahimahullah – pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma’rifat. Dimana hal ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin ‘Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya (tidak ada nilai-nilai Ketuhanan). Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan). Sebab keduanya merupakan sifat yang selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali. Dimana tampak dua ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak. Mereka yang diterima, benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya. Maka setelah itu, tidak ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.).”

    Saya katakan, bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmad bin Atha’ maknanya mendekati dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani – rahimahullah – dimana ia berkata, “Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha) atau benci. Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula, karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan orang-orang yang dibenci-Nya.”

    Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut. Sementara ucapannya yang menyatakan, “Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya.

    Makna semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis:
    Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, “Ini adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka. Sementara yang ini adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka.” (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash. Hadist ini Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).

    Ketika Abu Bakar al-Wasithi – rahimahullah – mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia berkata, “Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu.”

    Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini. Artinya – dan hanya Allah Yang Mahatahu -, “Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah ..

    salamalaika..

    Tahjud

    • salam alaika,,

      makasih banyak,,

      sdr Tahjud nan mulia.

      • mencerahkan

  2. Janganlah anda samakan syari’at dan hakikat

  3. salam
    terokai dan carilah titik prsamaan..
    Yg tk sama fikiran,igauan dan ilusi..

  4. salam….ma’rifat itu SADAR.slamat berjuang Pak haji…….YASAYYIDII YAROSULULLOOH


Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 208 other followers

%d bloggers like this: