Posted by: hajirikhusyuk | Disember 30, 2009

Melihat Allah

 

Dari Anta

Kiriman Saudara Tahjud

Melihat Allah.

AKIDAH Tauhid Iman Bahasan : Ingin Melihat Allah?

Hadist: Dari Abdullah bin Syaqiq, katanya:  Kataku kepada Abu Zar: Sekiranya saya berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. niscaya kutanyakan kepada beliau suatu soalan.

Kata Abu Zar:” Tentang  apa?”

Jawab Abdullah:” Apakah tuan melihat Allah?”

Kata Abu Zar:” Itu pernah ku tanyakan kepada beliau, dan dijawabnya:” Saya hanya melihat sinar Wudullah serupa dengan saya tapi tidak sebanding, saya lemah dikuasa melihat diri di luar diri, engkau adalah aku, aku adalah engkau,  begitulah sapaan Allah terhadap Hambanya (nur)”.

Allah Ta ala bisa dikenal Tapi tidak bisa diperkenalkan Kepada siapapun.  Kata Rasulullah, aku menyembah Allah yang ku kenal, Dan Nabi Musa Menyembah Allah Yang dia Kenal. Begitu juga Pengenalan Nabi-nabi  Yang lainya. Dan Begitu juga Nanti semua semua umat-umatku, Karena sangat-sangat  Rahasia Peribadi.

Apabila tampak suara, tidak Tampak wujud , apa bilaTampak wujud Tidak Tampak suara. Seperti Yang dilakukan Nabi Musa di Bukit Tursiana, mau betul Melihat wujud Allah Yang Serupa tidak sebanding. melihat diri di luar diri, engkau adalah aku, aku adalah engkau. mengenalnya Allah satu persatu, itu yang betul,  bukan satu untuk semua karena kita lahir, mati, musyahadah, murakabah, dan mujahadah sendiri tidak bisa berjamaah.., penyaksiannya…, mudahan paham, amin.

Jangan rampas,  sifat Allah, Asma Allah dan Afal Allah dan wujud Allah. Dan Jangan Engkau aku itu. Itu adalah sifat-sifat  Orang Yang Melampai Batas. Yang Apabila ditunjukkan Kebenaran,  selalu Ragu Kemudian Berpaling Padahal sudah  empat  kitab dan 25 Nabi utusan. Itu semua Karena engkau sibuk mengurusi duniawi, lupa menuntut Ilmu:

Hadis:  Menuntut ilmu itu Wajib fardu Ain Atas Muslim Laki-laki  dan Muslim Perempuan: kewajiban Menuntut ilmu usuluddin Sama Wajib hukumnya sama Dengan rukun Islam, rukun iman, apa bila diLanggar Mutlak Hukumnya Haram.

Hadis Qudsi: Awaluddin Marifatullah,… artinya: Awal beragama mengenal Allah,  dan Bermula sembah itu Atas kenal marifat kepada Allah.  Seperti Nabi,  sahabat,  Dan Wali Allah dan hamba Allah Yang Mukarabin aridillah,  hanya memperdalam mencari ke jenjang yang lebih baik dan tepat mengenal Allah .

Marifat adalah nikmat yang teramat besar. Namun, kenikmatan  syurga tiada sebanding  dengan nikmat menatap wajah Allah secara langsung. Itulah puncak dari segala puncak kenikmatan dan kebahagiaan. Rasulullah s.a.w sendiri menjanjikan hal ini dan baginda pernah menyebut bahawa umatnya akan dapat melihat Allah SWT di saat fana , maupun jaga, Kejahiranya Sangat Nampak Pada Hamba.

Hadis qudsi: Al insanu syirri wa ana syirrohu,  ertinya, Adapun Manusia itu Rahasiaku  Dan aku pun rahasianya. Unsur Insan itu  ada jasad ada nyawa, ada Allah: Maka hiduplah Hamba. Adapun Jasad, Nyawa, dan Allah ta ala, Bagaikan Barang senyawa, Yang tidak bisa di pisahkan Satu sama lain, Begitu juga, Lagit dan bumi, dan makhluk lainnya.

Allah Taala satu,  Disembah Bersama-sama,  beramai-ramai  bukan begitu, itu hanya sangkaan saja, Marifatnya Allah Swt,  Esa Pada wujud Hamba Masing-masing,  sudah mutkak satu persatu diberi sesembahan,  kenapa berpaling mencari yang jauh, sungguh melampaui batas. Dalilnya,  aku beserta hambaku di mana dia berada.

Tentang melihat Allah ini, Allah SWT berfirman mengisahkan permintaan Musa untuk melihat-Nya: “Dan tatkala Nabi Musa datang pada waktu yang kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka nabi Musa (merayu dengan) berkata:” Wahai Tuhan ku, perlihatkanlah kepadaku (Dzat-Mu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihat-Mu.”

Allah berfirman: ”Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.  Rahasianya,  tidak ada (siapa) yang bisa melihat Allah Hanya Allah. Sebab Terdinding Hamba kepada Allah, selain wujud Allah, Masih ada Rasa Wujud Hamba Cuma itu.

Tetapi pandanglah ke gunung itu, Pada ketika Nabi Musa menandang gunung,  Begitu juga Allah Taala berpisah sementara daripada jiwa Nabi Musa, maka  pingsan nabi Musa Bukannya (kerana) mendengar Akan letusan gunung tersebut,   jika ia tetap berada di tempatnya (sebagaimana sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku.” Setelah Allah ‘Tajalla’ (menzahirkan kebesaran-Nya) kepada gunung itu, (maka) ‘Tajallinya’ menjadikan gunung itu hancur lebur dan nabi Musa pun jatuh pengsan.

Setelah  sedar semula berkatalah Nabi Musa:” Maha Suci Engkau (wahai Tuhan ku), aku bertaubat kepada Engkau dan akulah orang pertama beriman (pada zamanku)” (QS Al- A’raf 7 : 143).

Maha Suci Allah Yang Maha Berkuasa, Tiada daya sekalian makhluk melainkan Allah pada Rahasia..

Salam alaika
Tahjud

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 28, 2009

Rahsia huruf

 

Dari Anta

Kiriman Saudara Anugerah

Rahasia Huruf Al-Quran

Rahasia huruf yang terkandung dalam Alquran, secara tegas Rasulullah tidak pernah menjelaskan rahasia ini. Hanya saja beliau mengisyaratkan bahwa di dalam Alquran itu jika diringkas, inti Alquran itu adanya dalam surat Al Fatihah sehingga disebut ummul qur’an, … kemudian oleh ulama sufi di kembangkan menjadi suatu ilmu dalam mencari hakikat huruf atau firman ….

Mungkin cara yang ditempuh oleh para guru-guru sufi sering kali membuat bingung pengamat, sehingga mereka dianggap orang yang mengada-ada dalam beragama. Sebenarnya tidaklah demikian, … saya (Sdr Anugerah?) sendiri bukanlah penganut faham ajaran para sufi tentang rahasia huruf yang mereka kemukakan. Akan tetapi saya hanyalah orang yang mencoba mengerti methode yang di sampaikan sebagai pendekatan ilmu, … agar sang murid mudah memahami dalam arti hakikat. Bagi saya hal itu sah saja, karena di dalam memberikan pengertian arti tersembunyi sangatlah sulit, sehingga mereka mempunyai cara yang indah untuk memudahkan dalam memberikan arti rahasia ketuhanan dengan sederhana. Hal ini saya ungkapkan agar para pengamat tidaklah mencurigai ajaran para sufi ini.

Mari kita fahami rahasia huruf ini dengan pengertian kita sekarang….

Huruf adalah sebuah rumus yang pada mulanya tidak memiliki arti apa-apa, … kemudian tersusun menjadi sebuah kata dan susunan kata menjadi sebuah kalimat dari kalimat terkandung sebuah pengertian, … dan pengertian itu bukanlah sebuah kalimat !!
Kalau kita perhatikan sebelum ada kesepakatan manusia mengenai rumusan huruf, huruf adalah sebuah artikulasi yang timbul dari dorongan udara yang terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan bunyi … kata ADUH !! AU !! bukan sebuah kalimat tetapi mengandung sebuah pengertian menunjukkan rasa sakit atau terkejut.

Seandainya rumus-rumus itu tidak ada maka huruf, kata, kalimat pun tidak ada, … akan tetapi walaupun rumus-rumus huruf tidak ada, namun hakikat pengertian dalam diri manusia tetap ada. Anda akan menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu bahasa jiwa, yang tidak berhuruf, tidak bersuara, tidak bergambar. Maka benarlah jika demikian bahwa Alqur’an itu awalnya adalah bahasa wahyu (bahasa Allah) laa shautun wala harfun tidak berupa suara dan bukan berupa huruf yang di-translate kedalam bahasa manusia yaitu bahasa Arab !!

Pada saat itu Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yang telah turun kedalam jiwanya. Bahasa Allah itu berupa ilham / wahyu, menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ilham itu berarti memasukkan pengertian kedalam jiwa orang itu dengan cepat. Dikehendaki dengan cepat, ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam jiwa dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimat-muqadimatnya, … seperti binatang lebah, ketika menerima wahyu dari Allah, binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi mereka mampu menangkap ajaran Allah ketika Allah menginstruksi-kan membuat rumah-rumahnya yang indah dan tersusun rapi dan cerdas !

Pengertian itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara. seperti perasaan CINTA dan Perasaan RINDU dan perasaan ini tidak ada tertulis huruf C-I-N-T-A, … walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami rindu dan cinta itu, … akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku rindu, aku cinta …. Keadaan ini sangat jelas dan tidak bisa bercampur dengan perasaan lainnya. Cinta itu sangat jelas tempatnya bahkan anda mampu menceritakan dengan bahasa yang lugas. Inilah rahasia firman Allah yang akan diungkapkan oleh ulama sufi dalam bahasa yang indah dan dimengerti oleh murid-muridnya.
Selanjutnya setelah anda mengerti akan uraian saya diatas maka marilah kita membahas maksud pertanyaan saudara mengenai rahasia huruf dalam Alqur’an.

Alquran mengandung 6666 ayat, terhimpun dalam AL FATIHAH dan Al fatihah pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM dan bismillahirrahman nirrahim terhimpun dalam Alif, sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ dan pada Ba’ terhimpun pada titiknya. Pada titik inilah awal mula semua kejadian bentuk huruf….

Hampir mudah sekarang kita memahami maksud rumusan diatas, karena kita tahu bahwa Al qur’an itu adalah firman Allah mengandung seluruh perintah dan larangannya, tata hukum dan sejarah bangsa-bangsa manusia, … pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam ummul qur’an (Al fatihah).

Pada ummul qur’an menyimpulkan inti ajaran Alquran :
Tentang masalah ketuhanan yaitu sifat af’al dan Dzat Allah…Dialah Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia Dia lah tempat segalanya bergantung Karena Dia adalah penguasa alam semesta Kepada-Nya manusia memohon pertolongan dan petunjuk Demikianlah kesimpulan maksud ummul Qur’an, yaitu berserah dan menerima Allah serta bersandar kepada yang Maha menguasai alam dan diri manusia.

Berarti dari rangkaian ayat-ayat dalam Al fatihah adalah tertumpu pada huruf ba’ (dalam tata bahasa Arab sebagai ba’ sababiyah), artinya semua yang ada berasal dari huruf ba’ dengan sebab ismi (nama). Kalau di pisah bi- ismi- Allah (bismillah) semua yang ada karena sebab adanya Asma, pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, ini terangkum dalam arti titik, karena titik baru bersifat Kun (jadilah) maka terjadilah segala sesuatu.

Karena kun-Nya yang dilambangkan dengan titik, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan menjadi garis, garis menjadi bentuk atau wujud. Sedangkan dzat tidak berupa titik karena titik masih merupakan sifat dari pada DZAT !! artinya Kun Allah bukanlah DZAT, karena Kun (kalam / wahyu) adalah sifat dari pada Dzat, bukan Dzat itu sendiri, … sehingga arti titik adalah akhir dari segala ciptaan, pada titik ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud para kaum sufi sebagai Nur Muhammad (cahaya terpuji), karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, dan Dzat berkata melalui Kun-Nya, maka jadilah semuanya.

Hal ini juga terurai dalam filsafat yang menunjukkan arti hidup, diurai dalam makna yang berbeda, akan tetapi mempunyai kandungan pengertian yang hampir mirip dengan uraian saya diatas.
Seorang guru besar mengajarkan kepada anaknya hal berikut :

Ambilkan aku buah pohon itu disana itu
Sang murid menjawab, Ini dia yang mulia ….
Belah dua-lah itu.
Sudah terbelah, yang mulia
Apakah yang kamu lihat ?
Saya melihat biji yang amat kecil
Belah dua-lah salah satu dari padanya
Dia sudah terbelah, yang mulia
Apakah yang kamu lihat didalamnya ?
Tidak ada sesuatu apapun, yang mulia
Sang guru berkata :

Yang halus ialah unsur hidup
Yang tak tampak olehmu
Dari yang halus itulah sebenar yang ada
Yang dari padanya sekalian ini terjadi
Itulah hakikat yang sejati,
Itulah hidup
Itulah kamu ……

Dari sebuah biji, terangkum ide-ide yang akan terjadi, … nanti akan ada sebuah akar yang menjulur, daun-daun yang hijau, batang yang kokoh serta buahnya yang ranum. Dan itu terangkum dalam sesuatu yang tak terlihat, yaitu hakikat hidup.
Syekh An Nafiri menguraikan masalah huruf ini dalam kitab Raaitullah (Aku telah Melihat Allah). Beliau dalam pembahasan masalah hakikat juga menggunakan ‘huruf’ sebagai lambang segala sesuatu tercipta untuk mengungkapkan bahwa dzat itu bukanlah sebuah apa yang bisa digambarkan, sebab segala sesuatu yang masih bisa digambarkan disebut dengan huruf.

Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan, pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadikan bilangan. Pendapatan disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataaan disatukan dengan bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis, dan atas dasar hukum peringatan hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran. Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah (sengketa) yang satu berlawanan dengan yang lain, hal mana membawa kepada kepiluan dan kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan ketegangan dan keguncangan.

Asma (nama-nama) dan sifat-sifat dan Af’al (perbuatan-perbuatan) adalah hijab belaka atas Dzat ilahiat. Karena sesungguhnya Dzat ilahiat itu tidak dapat menerima pembatas. Dzat ilahiyat itu berada pada tingkat ketinggian, sedangkan pelepasan (penanggalan tajrid) dan Asma dan Ilahiyat adalah urut-urutan yang menurun. Asma dengan Dzat Asmanya berdiri tanpa perbuatan, Asma dapat berbuat hanya dikarenakan Dzat Allah semata…dan sesungguhnya persoalannya berkisar bagaikan perkakas dan alat-alat dan huruf di dalam surga adalah merupakan alat-alat dan perkakas…..

Kesimpulan dari semua keterangan diatas adalah:
Para sufi ingin memudahkan dalam pencaharian Tuhannya melalui firman dan ciptaannya….
Secara berurutan terurai sebagai berikut …
Alam adalah firman Allah yang tak tertulis (ayat-ayat kauniyah), dan
Alqur’an adalah ayat-ayat kauliyah …
Semua alam semesta tergelar atas Asma Allah (bismillah)
Asma terkandung kehendak …
Kehendak terkandung dalam sifat…
Sifat terkandung dalam Af’al
Af’al terkandung pada Dzat.

Semua itu adalah hijab,  karena asma,  sifat,  af’al bukanlah dzat itu sendiri … itulah yang dimaksud para sufi bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan hijab, … dan Dzat berada dibalik TITIK … dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu, … untuk mengetahui Dzat Allah harus menyingkirkan huruf dan titik, karena itu adalah hijab !!

Demikian semoga Allah membuka hati kita amin.

wassalam

Anugerah
Posted by: hajirikhusyuk | Disember 27, 2009

Hadis Qudsi

Dari Anta

Tulisan Saudara Tahjud

KEBENARAN  Hadis Qudsi


Hadits Qudsi berasal dari kata qudsi/suci yang berarti menyucikan ALLAH SWT. Hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Rasululloh SAW disandarkan kepada ALLAH SWT. Maksudnya Rasululloh SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam ALLAH SWT. Maka rasul menjadi perawi kalam ALLAH SWT ini dari lafal Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasululloh SAW dengan disandarkan kepada ALLAH SWT, dengan mengatakan:

`Rasululloh SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`, atau ia mengatakan:Man arafa napsahu Faqat Arafa rabbahu (hadis qudsi)

`Rasululloh SAW mengatakan: ALLAH SWT telah berfirman atau berfirman ALLAH SWT .`

Contoh yang pertama:

`Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasululloh SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla, tangan ALLOH SWT itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah, baik di waktu siang atau malam hari.`

Contoh yang kedua:

`Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasululloh SAW berkata: ` ALLAH SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku.bila menyebut-KU di dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan bila ia menyebut-KU dikalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu.`

Perbedaan Qur’an dengan hadits Qudsi.
Ada beberapa perbedaan antara Qur’an dengan hadits qudsi yang terpenting di antaranya ialah:

a.         Al-Qur’anul Karim adalah kalam ALLAH SWT yang diwahyukan kepada Rasululloh dengan lafalnya. Selain sebagai MUKJIZAT, Al Qur’an menantang orang-orang  Arab (bahkan seluruh dunia) untuk membuat yang seperti Al Qur’an bahkan satu surah sekalipun (Al Israa’(17):88,“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.). Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.

b.         Al- Qur’anul Karim hanya dinisbahkan kepada ALLAH SWT, sehingga dikatakan: ALLAH SWT telah berfirman, sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada ALLAH SWT, sehingga nisbah hadits qudsi kepada ALLAH SWT itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Maka dikatakan: `ALLAH SWT telah berfirman atau ALLAH SWT berfirman.` Dengan kata lain, Al Qur’an adalah tidak lang sung dari ALLAH SWT, tetapi melewati Perantara Jibril As,  sementara hadits qudsi adalah firman ALLAH SWT yang lansung disampaikan kepada Rasululloh SAW.

c.         Seluruh isi Qur’an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Ada kalanya hadits qudsi itu sahih, terkadang hasan (baik ) dan terkadang pula da`if (lemah).

d.         Al-Qur’anul Karim dari ALLAH SWT, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari ALLAH SWT, sedang lafalnya dari Rasululloh SAW.  Hadits qudsi ialah wahyu dalam makna, tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebab itu, menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja. Dengan kata lain, untuk Al Qur’an kita mesti kutip ayatnya sebelum memberikan penjelasan tentang  makna. Sedangkan untuk hadits qudsi,  kita bisa menyampaikan maknanya saja.

e.         Membaca Al-Qur’anul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca di dalam salat. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`. Hal ini tertera jelas di QS. Al-Muzzammil(73):20,“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“

KESUCIAN Hadist Qudsi


Hadis Qudsi adalah perkataan Allah langsung Kepada Nabi/atau perkataan sir/rahasia, tampa melewati jibril. Langsung dari  atau bathin Rasulullah yang tersembunyi-
(Allah dan hamba.haq kepada Ahlinya untuk dirawikan).

Hadis Qudsi menempati kedudukan paling istimewa setelah Al-Quran. Hampir tak ada bedanya dengan Al-Quran, hadis qudsi adalah ungkapan langsung atau sapaan Allah kepada hamba-Nya melalui lisan Nabi. Dalam hadis qudsi , Tuhan selalu menyatakan diri sebagai “Aku”  dan menyapa hamba-Nya sebagai “Engkau”, sehingga hubungan “Aku dan Engkau” terasa begitu akrab dan hangat. Jalinan keintiman ini, pada gilirannya, membuat hadis qudsi lebih bisa menguak berbagai rahasia sisi keilahian-Nya di satu sisi, dan rahasia kehidupan makhluk di sisi lain.

Karena itu, wajarlah kalau kemudian hadis qudsi lebih banyak dijelaskan para sufi. Bahkan bisa dikatakan bahwa hadis qudsi merupakan sumber inspirasi terbesar mereka setelah Al-Quran. Mereka kerap mendasarkan ajaran-ajaran utama mereka pada hadis qudsi . Atas jasa mereka, berbagai makna yang tak terkira dari sapaan Ilahi itu bisa kita nikmati.

Salah satu penjelasan alternative terhadap hadis qudsi yang jarang diungkap adalah penjelasan langsung (syarah) para perawinya. Di antara para perawi (ahli hadis) ada juga yang sekaligus ahli sufiatil muhqqikin, seperti Jalaluddin Al-Suyuthi, Zakaria Al-Anshari, Ibn Qayyim Al-Jauzi dan seterusnya. Bahkan, selain mendalam, penjelasan mereka memiliki dasar kekuatan yang jauh lebih tinggi: otoritas sanad (rangkaian perarwi hadis ) yang sampai kepada nabi SAW. Ialah qul haq walau kaanna murra= katakanlah yang haq sekaipun pahit. Tatkala rasulullah Menyampaikan yang pahit-pahit  katahuan sia A kapir, si A munapik, si A ber iman, si A hasud,  si A murta, dan  bagaimana penerimaan pada waktu itu,  itulah cap dirinya pada ketika itu, kerana itu  banyak yang memusuhi nabi ada yang mau membunuhnya,  dulu teman sekarang terpisah (musuh)….apalagi sekarang ini.

Sebenarnya hadist itu tidak ada yang lemah, daib dan mashur, yang lemah dan daib dan yang ingkar itu  ialah orang –orang  yang memahaminya saja,  yang ala qadri ukulihim tidak sampai memikirnya karena miskim akan ilmunya.

Semoga bermanfaat.

Salam

Tahjud, Balikpapan.

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 26, 2009

Kehidupan dunia


Dari Anta

Tulisan Saudara Ismailsgbuluh

Kehidupan dunia

Salamun Alailka Yaa Habibullah
Wa salamun alaikum Yaa Ibadallah

Khabarkan kepada ku tentang kehidupan di dunia ini,
Tidaklah ia melainkan suatu ilusi yang nyata,
dan gurau-senda yang melalaikan jiwa.

Kenapa begitu kejadiannya Yaa Habib?

Tidak lain dan tidak bukan melainkan ia suatu medan ujian bagi Allah menentukan siapa di kalangan hamba-hamba Nya yang ber-Ihsan di dalam amalan mereka,
Kerna itu Sayyidul Mursaliin mengatakan yang paling bijaksana di antara kamu ialah mereka yang meninggalkan Ad-Dunya dan seterusnya membuat persiapan untuk mendiami Al-Aakhiroh (kembali kepada Allah, walaupun masih hidup di dunia ini).

Bagaimana aku bisa meninggalkan Ad-Dunya ini Yaa Abdillah?

Carilah oleh mu Wasilah yang bisa menenteramkan hati kamu,
Ingatlah akan asal dan kesudahan mu,
Duduklah dengan Nabi mu dengan memperbanyakkan selawat ke atas nya kerna sekalian yang duduk dengan nya akan selamat.
Lihatlah kesudahan pada para Sahabat nya semua,
Kemudian kerahkan Aqal mu agar berlaku jujur pada pemerhatiannya,
Pastikan hati mu ikhlas di dalam kehendak nya.

Bagaimana aku bisa mempersiapkan Al-Akhiroh ku Yaa Sayyidi?

Kembalikanlah jiwa mu kepada Pencipta nya dengan istighfar, kerna tatkala itu Dia kan mendakap mu dengan penuh kasih dan sayang,
Nafikan keberadaan Ad-Dunya mu kerna ia bukanlah sebab kamu diciptakan,
Ad-Dunya itu tidak lebih dari satu sandiwara yang palsu belaka… tetapi sempurna penciptaannya kerna ia menepati hukum yang telah ditentukan,
Benarkanlah hatimu kerna di situ lah kamu akan menemukan Al-Akhiroh mu (Allah).

Bukankah kamu sudah mengakui bahawasanya sekalian yang ada pada diri kamu itu adalah pinjaman semata-mata dari Zat Yang Maha Esa?
Apakah kamu memiliki hati dan aqal kamu?
Apakah kamu yang menciptakan penglihatan dan pendengaran kamu?
Apakah kamu yang memiliki kekuatan kedua-dua tangan dan kaki kamu?
Jika benar kamu lah pemiliknya, mengapa kamu menjadi buta dan tuli? Mengapa kamu menjadi lemah setelah diri mu itu dimamah usia?

Khabarkan kepada ku jawaban nya wahai jiwa!
Boleh kah kamu hidup tanpa mati, jika benar kamu lah pemilik segala apa yang ada pada diri kamu itu?

Tinggalkan hawa nafsu mu dan kembalikan ruh mu kepada Pemilik nya yang sebenar dengan mengaku kedho’ifan dan kefaqiran mu itu,
Kamu tidak akan bisa berjumpa dengan kemenangan melainkan Dia yang memenangkan kamu,
Biarlah Dia saja yang membersihkan hati mu dengan Nur nya yang menerangi langit dan bumi,
Berlepaslah kamu dari sekalian khayalan dan angan-angan yang tercipta oleh kehendak hawa nafsu,
Janganlah kamu berkehendak barang apa pun melainkan ia kehendak Ilahi.

Dan perhatikanlah bahawasanya selagi kamu tidak meninggalkan Ad-Dunya kamu, selagi itulah keberadaan kamu itu didalam dosa yang nyata…

Dan sesungguhnya… tiadalah berarti kehidupan kamu itu jika Al-Akhiroh (Allah) tidak mendiami di hati kamu.

(Hajirikhusyuk: Hendak pulang ke kampung akhirat (bertemu Allah) tidak perlu tunggu mati, pertemuan itu seharusnya dilakukan di dunia ini juga dengan jalan “mati sebelum mati” atau ” Titik ghaib, maka nyatalah Alif,  atau, Ghaib Hamba, maka timbullah Dia).

Salam,

Ismailsgbuluh.


Posted by: hajirikhusyuk | Disember 24, 2009

Lafaz Allah

   

Dari Anta 

Tulisan Saudara Tahjud 

Lafaz  Allah 

Diterangkan di dalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523,  disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis di dalam Al-Quran sebanyak 2,696 tempat (kali). 

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil,  mengapa begitu banyak nama Allah,  (bagi) Dzat yang maha Esa itu,  bagi kita…? 

Allah, Dzat yang Maha Esa, berpesan: 

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “ 

Maksudnya : Allah itu namaku dan Dzatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu,, ia  satu (esa). 

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah empat  kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun di dalam Al-Qurannul karim, dan rahasia Al-Qurannul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”. 

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada dua belas  huruf, dan jika digugurkan  lapan  huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal  empat huruf saja, yaitu Allah. 

Makna  kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung makna dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna. 

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandainya kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu, atau huruf demi hurufnya. 

1                   Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa tiga huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi, tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk. 

2                   Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa dua  huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi, tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
 

3                  
Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa satu huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi, tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.
 

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya: 

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat. 

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, ke bawah tiada berbatas dan ke atas tiada terhingga. 

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran di bawah ini: 

Ketahui pula,,  jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (di pangkal dan di akhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH). 

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas ke atas atau ke bawah tetapi hanya dibaca dengan titik. 

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri  dua  huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada ahlinya). 

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa  dua  buah huruf di tengahnya, yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu. 

Selanjutnya,  gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Dzat Allah, maksudnya Makrifat  yang semakrifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Makrifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH. 

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya). 

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara di dalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah. 

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada dua puluh lapan  huruf. 

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat dua puluh lapan  huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya. 

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah. 

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu,  maka yang ada hanya satu saja,  yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya. 

Al-Quran yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun ke dalam Suratul Fateha, dan Suratul Fateha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak. 

Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada di atas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) di atas Tasydid adalagi satu huruf Alif. 

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah. 

Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.
 

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).
 

Pertanyaan: 

Siapa ALLAH? Siapa AKU?
Apakah tujuan AKU diciptakan?
Apakah benar ada Tuhan yang perlu disembah atau sebaliknya?
 

Jawaban: 

Allah ada yang Zahir dan ada yang Bathin, maksudnya ada yang nampak, ada yang tersembunyi,
contohnya: ghaib titik, alif yang nyata; titik tersembunyi di dalam alif; atau Ghaib Allah Hamba yang nyata, tetapi esa juga adanya, tampa bercampur,  tampa bertempat.
 

Kelihantan dua nama tetapi satu (esa), yang nampak dinamakan Hamba dan yang tersembunyi (bathin) dinamakan Allah. 

1_  Tujuan Allah mencipta hambanya, sebanarnya Tuhan ingin menampakkan sifatnya di dunia, kalau tidak nampak siapa yang mengenal.
2_ Allah ingin mengenal dirinya dan memuji dirinya yang zahir, yang paling duminan adalah Rasa.
 

Berlakunya Sembah,  atas kenal mengenal,

yang dikenal puji memuji,  yang dipuji,  ya_saya, ya_kamu, 

itulah sebenarnya sembah. 

Salam, 

 Tahjud,  Balikpapan 

 

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 22, 2009

Tajali Allah

 

Dari Anta:

Tulisan saudara Anugerah.

Tajali  

Mengenai tajali Allah,  bisa saja kepada siapa saja. terutama pada rasul-rasul, nabi-nabi, dan wali-wali-Nya. atau kepada siapapun yang dikehendakiNya. Apabila Allah bertajalli pada hambanya yang Ia kasihi, maka tangan, kaki, mata, telinga, hati, dan seluruhnya yang ada diri si hamba adalah tangan dan kaki Allah swt. Banyak hadis yang menerangkan perkara  ini.

Penyaksian terhadap tajalli-nya Tuhan di dunia, menurut pendapat kalangan sufi, bisa saja terjadi. Tetapi bukan dengan mata kepala, melainkan mata hati yang memperolehi  Nur Mukasyafah. Dalam hal ini, yang perlu dicatat adalah penglihatan yang dimaksudkan, bukan melihat Kunhi Dzat-Nya (keadaan rupa, bentuk atau warna dari Dzat Tuhan), yang diistilahkan “bi ghairi kaifin wa hashrin wa dlarbin min mitsalin”. Tetapi pandangan syuhud (mata hati).

Dalam pandangan sufisme Jawa, yang diserap dari ajaran para Wali, sangat kental keyakinan bahwa Tuhan bertajalli kepada hamba-Nya yang dikehendakiNya. Karena itu,  disusunlah sebuah doa yang amat ampuh. Doa itu dibaca saat menjalankan tafakur. Pada zaman Panembahan Senopati Mataram, doa ini diajarkan untuk menjalankan lelaku. Dalam babad tercatat doa tajalli itu sebagai berikut:

Dalam berdo’a kepada Allah, kita boleh memakai bahasa apa saja yang dapat kita mengerti dan pahami karena Allah Maha Tahu bahasa makhluknya apa yang di langit dan di bumi, kecuali dalam shalat kita wajib memakai bahasa Arab. Hal ini tidak terlepas dari hadits Nabi SAW : “Shalatlah seperti engkau melihat shalatku”.

Jalan Tajalli

Untuk mencapai Tajalli, diperlukan  ketekunan.   Bukan hanya itu, jalan yang harus dilaluinya beberapa lembah dan jurang, perjuangan demi perjuangan, kesungguhan, lapar dan dahaga, yang diistilahkan jurang fana, fana-ul fana, fana fillah wa baqa billah. Teori lain mengistilahkan Takhali, Tahalli, berjalan terus sampai pada Tajalli.

Takhalli adalah pengosongan dari sifat-sifat tercela, kemudian menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji yang disebut Tahalli. Pengosongan pikiran dan hati dari segala macam persoalan duniawi dan menghiasinya hanya semata-mata ‘dzikrullah’ (melihat yang diingat). Pengosongan dalam arti ‘fana segala yang fana’ hati dan pikiran itu pun fana, lalu terasa kemanisan, keindahan yang tiada tara. Istilahnya ‘rasa yang tiada berasa’.

Segalanya menjadi jelas, nyata dan terbentang. Itulah ‘mukasyafah’ (pembukaan). Di situlah tajalli Ke-Esa-an, laksana Musa AS yang sedang pingsan, dan Gunung Thursina pun hancur berantakan. Saking nikmat dam indahnya, Musa AS. Tidak mampu untuk berbicara, mana Musa? Mana gunung? Mana Tuhan? Akhirnya seperti apa yang dikatakanoleh Syech Junaid “Hakikat Tauhid (sebanar-benarnya tauhid) tiada lagi tanya, kenapa dan bagaimana.”

Dialog

Kalau Allah sudah bertajalli, maka tidak sekedar tajalli. Tetapi terjadi proses dialog antara hamba dengan Dzat Tuhan. Pembicaraan Allah dengan makhluknya disebut wahyu, untuk para Nabi dan Rasul, dan Ilham bagi manusia biasa. Ilham tidak bisa dijadikan dasar hukum, karena sifatnya sangat pribadi (perlu dirujuk kepada Al Quran dan Hadis).

Wahyu Allah kepada Nabi dan Rasul ada dua macam, yaitu melalui perantaraan malaikat Jibril, yang disebut Al-Quran untuk Nabi Muhammad SAW, dan wahyu langsung ke hati Rasul, yang disebut hadis Qudsi (firman dari Allah dan redaksinya dari Rasulullah).

Sedangkan bisikan Tuhan pada hati manusia biasanya (wali), baik sebagai petunjuk atau perintah, disebut Ilham. Sifatnya pribadi, tidak untuk disiarkan pada umum. Karenanya tidak boleh diceritakan secara sembarangan, terkecuali kepada ahlinya (orang yang memahami), orang yang menggeluti dunia sufi dan memahaminya. Jika diucapkan secara sembarangan, bisa menimbulkan fitnah dan sangat membahayakan.

Allah bisa saja berbicara kepada makhluk-mahlukNya, karena bersifat Mutakalim (Yang Maha Berbicara). Jangankan kepada Nabi dan Rasul, lebah-lebah pun mendapat perintahNya. Membuat sarang dan memproduksi madu di bukit dan di hutan. Ibu Nabi Musa (Maryam) yang manusia biasa, juga diberi wahyu, yang isinya petunjuk untuk menghanyutkan bayi Musa ke sungai Nil.

Banyak kisah auliya’ (wali-wali Allah) yang berdialog dengan Allah. Salah satunya yang terkenal adalah Abu Yazid Al-Bistami. Dalam kitab Ihya’, Imam Ghazali menceritakan karomah kekasih Allah ini, yang bersumber dari Yahya bin Muadz.

Yahya berkata kepada Abu Yazid, “Wahai tuanku, tolong tuan ceritakan pada saya tentang apa saja.” Lalu beliau menjawab: “ Aku ingin ceritakan padamu apa yang kira-kira baik buatmu. Aku telah Allah masukkan ke lapisan yang terbawah, lalu ia kelilingkan aku ke alam Malakut yang terbawah itu, dan Ia perlihatkan kepadaku lapisan bumi dan apa saja pada bagian bawah. Kemudian Allah angkat dan masukkan aku ke orbit yang tinggi dan Ia kelilingkan aku di ketinggian (langit) dan Ia perlihatkan padaku surga-surga dan ‘Arasy. Kemudian diletakkan aku dihadapan-Nya, seraya berkata: “Mintalah kepada-Ku apa saja, Aku akan berikan untukmu.” Aku pun berdatang sembah; “Ya Tuhanku, apapun yang aku lihat sudah cukup sudah cukup baik untukku. Lalu Ia berkata: “Hai Abu Yazid, engkaulah hamba-Ku yang benar, engkau sembah Aku hanya semata-mata karena-Ku.

Tercatat cukup banyak dialog muhadasta (antara seorang hamba yang bukan Nabi atau Rasul) dengan Allah SWT. Sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Buchari dikatakan: “Dari ‘Ady ibni Hatim, beliau berkata, bahwa Nabi telah bersabda: “Seseorang kamu akan bercakap-cakap dengan Allah tanpa ada penterjemah dan dinding yang mendidinginya.”

Wassalam

Anugerah

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 18, 2009

Nama Rahasia

 

Dari Anta:

(Komen sdr Tahjud, ana susun semula, kalau ada tersalah harap ante perbetulkan)

Nama diri Rahsia Allah

Topik yang dipaparkan ini, adalah penting, jikalau pembaca tidak  faham,  harap baca berulang kali sehingga mendapat kefahaman. Kita mulakan dengan satu soalan berkaitan ketuhanan.

Soalan:

Minta penjelasan…

1. Apakah serba Tuhan itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?

2. Apakah serba hamba itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?

jawapan soalan 1: tuhan itu adalah dzat semata-mata,,

itu sebabnya ada perbezaan antara tuhan dan makhluk,,
walaupun makhluk daripada dzatnya juga, tetapi makhluk
adalah selepas pentajalian,,

itulah sebabnya jika mahu kembali kepada dzat harus melepaskan segala
pembatasan (takyunat) agar dapat kembali menjadi dzat yang mutlak.

jawapan soalan 2:

hamba atau makhluk adalah adalah hasil daripada pentajalian dzat allah.

Jawapan Sdr Tahjud.

Perkara kita menuntut ilmu..di saat kita sulit memahami sesuatu
 soalan berkaitan ketuhanan.. cubalah tafakurkan insyaallah ada jalanya yang diberikan Allah.. itu adalah Rahmat dari Allah…menjadi sutu temuan..(penemuan yang baru).

Cuba fikirkan, kenapa Tuhan dinamakan Allah?

Jawapannya:

1                   Kerana  ada Dzat, ertinya  diri Allah taala,  tetapi jangan Dzat mutlak semata, dia  mempunyai nama Asli (nama yang Ke-100).

2                   Kerana ada sifat, ertinya ada rupa

3                   Kerana ada asma (nama Asli), baru nama pangkatnya iaitu Tuhan, dan nama jabatannya Allah.

4                   Kerana ada afaal, ertinya kelakuan.

.Segala kesempurnaan dzat, sifat,  asma dan afaal itu terhimpun dan  dinamakan  RAHASIA, (pada nama yang ke-100).


Mari kita perhatikan tentang tajali secara ringkas:

1                   Tajali dzat

2                   Tajali sifat

3                   Tajali Asma

4                   Tajali afaal

Tauhid pula secara ringkas:

Tauhidnya adalah untuk mensyahkan rukun Syahadat, yang berjumlah empat perkara:

  1. Tauhidul dzat, iaitu mengesakan pada zat, iaitu yang ada  pada nama Rahasia (mengesakan dzat pada Rahasia)
  2. Tauhidul sifat, iaitu mengesakan sifat, iatu pada  nama Rahasia
  3. Tauhidul asma, iaitu mengesakan asma, iaitu pada   nama Rahasia
  4. Tauhidul afaal, iaitu mengesakan afaal, iaitu pada nama Rahasia.
     

Walhasil daripada makrifat adalah RASA (merasakan), iaitu dapat  merasakan rasa roh, iaitu seperti apa rasanya.  Dapat pula merasakan rasa Rabbani (ketuhanan), iaitu seperti apa rasanya.

Walaupun 1000 tahun mendefinasikan Allah, jikalau  belum merasakan, maknanya belum berhasil menemui Allah, seperti   mengkhayalkan perkahwinan, tetapi belum berkawin, pasti tidak tahu bagaimana rasanya berkawin.

Teka-teki ini kalau anda temukan, anda antara percaya dan tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin.
JADI KEBENARAN BERADA  DI ANTARA YAKIN DAN TIDAK YAKIN, ANTARA IA DAN TIDAK IA.  TETAPI KALAU SUDAH YAKIN APABILA DI SEBUT NAMA ASLINYA (nama yang ke-100)  MAKA BERGETARLAH HATINYA..

Nama Rahasia Allah nampak aksara arabnya (alif, lam, lam ha) (pada wajah kita)  cubalah (berdiri di hadapan cermin) bercermin.. di  huruf apa hidung, dua lobang hidung, huruf apa pada  kedua mata, hurup apa, mulut dan telinga,  sesudah mulut dan telinga, maka dirahsiakan (nama itu) jangan sampai didengar orang,  setelah tahu nama Rahasia maka  tutuplah mulut (jangan beri tahu), tutup telinga..(agar ia menjadi Rahasia).

Mudah-mudahan faham, perkara ini tidak boleh diberitahu secara langsung, hanya dengan isyarat-isyarat jua.

Kesimpulan Keakusan.

KESIMPULAN AKUAN  PADA   NAMA RAHASIA,  kepada  Allah kena,  kepada  hamba pun kena, sekali  sebut saja sudah terhimpun (pada kedua-duanya) . Segala sesuatu akuan didudukkan pada  nama RAHASIA Allah, (nama yang ke-100),  nama Aslinya disebut ismu al adzim, iaitu sebelum mengetahui Nama Dzat Aslinya (nama yang ke-100):

Sedangkan ALLAH, adalah nama jabatan untuk puji-pujian dan TUHAN ialah nama Pangkatnya..juga untuk puji-pujian.  Nama pangkat dan nama jabatan boleh  dinyaringkan.. tetapi apabila  menduduki   nama RAHASIA tidak boleh dinyaringkan.. ( kerana ia adalah Rahasia).

Seorang salik harus mencari Guru yang murabi mursid untuk menyampaikan Nama Rahasia tersebut..harus dibaiat kerana sifatnya  sangat  Rahasia…. sekalipun (tidak diberitahu kepada ) anak kita sendiri..

Soalan:

Manusia itu tiada daya.. akuan semuanya kerja tuhan, adakah itu jabariyah?

Jawapan:

Untuk ubudiyahnya,  aku .. disandarkan kepada,  lahaulawalaku wata illa billah….(tiada daya dan upayaku…) bagi yang belum mentajalikan asma (belum mengenal nama ke-100) …  makanya  adab ibadah ubudiyahnya ada istigpar.. subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahu akbar, 33x  berjumlah 99, dan tambah  lagi satu nama yang Asli (nama yang ke-100), nama yang Rahasia,, nama yang tidak dinyaringkan. 

Sedangkan, kesimpulan makrifat (yang sudah tahu nama yang ke-100) iaitu adalah perhimpunan kesempurnaan (dzat, sifat, asma dan afaal) pada  nama Rahasia itu.  Mustahil kenal pangkat (Tuhan) dan jabatan (Allah), tetapi tidak kenal nama Aslinya (Rahsianya) …..anak-anak  juga tau..

(Berkaitan pertanyaan ante itu) Betul masih jabariyah..ibarat sekolah tidak ada ijazah..apa lagi belum pernah digurukan..Firman Allah: Tuhan mengajarkan kalam dan apa yang kita tidak ketahui.

Jadi yang tidak diketahui disuruh cari (carilah nama Rahasia itu).

(Perhatian: Nama Rahasia adalah sama dengan Ismu al Adzim, nama Asli Dzat dan nama yang ke-100)

Salam, Tahjud.

Balikpapan.

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 14, 2009

Menuju Maha Pencipta

  

Menuju Maha Pencipta.

Hendaklah salik melintasi alam (dan bukan alam) untuk  menuju kepada Yang Maha Pencipta, sesungguhnya Tuhan  adalah tujuan yang benar dan yang pertama.

Keadaan salik yang tidak dapat melepaskan diri dari alam atau dengan kata lain syirik kepada Allah, adalah umpama seekor unta yang berputar mengelilingi batu penggiling, walaupun jauh ia berjalan, tapi akhirnya kembali ke tempat asalnya ia bermula, bukankah ini perbuatan yang sia-sia dan membuang waktu.

Oleh itu, keluarlah dari perbuatan yang sia-sia itu dan masuklah ke dalam Wujud Yang Maha Pencipta. Bagaimanapun untuk memasuki wujud tersebut terdapat banyak halangan dan penjara yang perlu dilalui, sebelum sampai ke matlamat yang dituju (Wujud Allah).

Yang pertama membebaskan diri daripada penjara alam jasad:

Penjara alam jasad adalah hawa nafsu. Di dalam penjara ini tersedia banyak hidangan yang lazat-lazat, seperti kekuasaan, kemuliaan, puji-pujian, tamak, haloba, dengki, khianat dan sebagainya.

Jika mahu bebas daripada penjara ini perlulah menjauhkan diri daripada perkara yang tidak baik itu, perkara-perkara itu menjadi penghalang kepada perjalanan salik menuju Penciptanya.

Penjara kedua adalah dunia.

Penjara ini mengandungi pelbagai keindahan dan keseronokan yang menjanjikan keabadian yang palsu kepada salik. Penjara ini menghidangkan pelbagai jenis nikmat yang seronok dan menghairahkan. Dengan lain kata inilah yang dikatakan penjara syahwat. Jikalau salik lalai dan panjang angan-angan, maka nampaknya tidak ada kemungkinan salik itu dapat bebas daripada penjara ini.

Penjara ketiga adalah akhirat.

Nampaknya hidangan-hidangan yang disediakan dalam penjara ini lebih enak daripada penjara dunia, di sini hidangannya adalah pahala, syurga dan bidadari yang cantik lagi menggoda. Rantai yang membelenggu  dalam penjara ini adalah kehendak dan keinginan diri sendiri. Menganggap diri sendirilah yang melakukan segala sesuatu sama ada baik atau buruk.

Bagaimanapun, kenderaan yang dapat membebaskan salik daripada penjara ini adalah ilmu, iaitu salik tidak memandang kepada perbuatannya tetapi adalah anugerah daripada  Allah SWT.

Penjara keempat adalah alam malaikat.

Inilah penjara alam maujud yang terakhir. Hidangan yang terdapat dalam penjara ini adalah kehampiran dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Rantai yang membelenggu  salik dalam penjara alam malaikat ini adalah sisa-sisa kehendak diri sendiri dan kesadaran tentang diri sendiri, iaitu segala yang dilakukan adalah atas daya diri sendiri bukan kurniaan Allah SWT.

Untuk keluar dari penjara ini perlulah menghapuskan segala kehendak, keinginan, cita-cita dan angan-angan dengan menyadari bahwa salik adalah kosong, yang ada hanyalah Allah semata-mata.

Penjara kelima adalah ilmu Allah SWT.

Ilmu Allah SWT bukanlah alam, sebagaiman empat penjara yang sebelumnya, yang mana penjara-penjara tersebut adalah alam ciptaan Penciptanya. Ilmu Allah adalah sesuatu yang bersangkutan dengan hal-hal ketuhanan itu sendiri.

Hidangan yang terdapat dalam penjara ilmu ini adalah rahsia-sahsia yang ghaib-ghaib tentang hukum-hukum  Allah SWT. Dalam hal ilmu Allah ini, salik dapat melihat pentadbiran Tuhan yang menggerakkan alam dan semua kejadian yang berlaku di dalamnya. Ilmu Allah sangat luas dan  tidak bersempadan.

Salik yang asyik dengan ilmu Allah akan terpenjara di dalamnya buat selama-lamanya. Oleh itu, ilmu hanya dijadikan sebagai kenderaan menuju kepada Yang Maha Pencipta, tetapi ilmu itu bukanlah sebagai tujuan terakhir.

Penjara keenam adalah makrifatullah.

Ini adalah penjara yang paling kukuh, ilmu Allah dan makrifatullah bukanlah alam maujud, tetapi yang berkaitan dengan hal-hal ketuhanan,  hidangan yang terdapat di sini adalah hakikat-hakikat,  hal-hal dan rahsia-rahsia berkaitan ketuhanan itu sendiri.

Jadi jika ditanya,,

Apakah pencapaian yang paling tinggi oleh ilmu?

Pencapaian paling tinggi ilmu tentang Allah adalah aku tidak tahu, Allah tidak dapat difikirkan, tidak dapat dibayangkan, tidak satu pun yang menyerupainya.

Jikalau ante telah sampai ke tahap ini, ke tahap kebingungan-kebingungan ini maka tahulah ante, bahawa ante telah sampai ke kemuncak yang dapat dicapai oleh ilmu, maka beralih pulalah kenderaan kepada makrifatullah.

Jika ditanya pula,,

Apakah pencapaian yang paling tinggi oleh makrifatullah?

Makrifatullah adalah berkaitan dengan Dzat Yang Maha Mutlak. Jikalau ditanya kepada makrifat apakah pencapaikan kamu yang paling tinggi?

Makrifatullah akan menjawab pencapaian aku yang paling tinggi adalah ke tahap  Dzat Allah,  tetapi aku tidak dapat mengenali Dzat Allah.

 Dzat Allah tidak dapat dikenal oleh sesiapa pun, termasuk para-para nabi dan wali-wali Allah. Makrifat berkata lagi, Dzat  Allah sekarang adalah sebagaimana Dia (Dzat Allah) dahulu juga. Tiada sebarang perubahan yang berlaku terhadapnya.  Bahkan bagi Dzat Allah tiada kini dan dahulu bagiNya.

Nah,,,

Oleh itu, sesiapa yang telah sampai ke makam makrifatullah, janganlah tinggal terpenjara di dalamnya, keluarlah dari penjara makrifatullah, barulah ante boleh sampai ke Hadirat Allah SWT atau bertemu Allah SWT.

Tapi,,,

Bagaimana ante boleh keluar dari penjara makrifatullah?

Keluarlah ante dengan tajrid (penganggalan atau pelepasan). Pelepasan dari segala sesuatu termasuk diri ante sendiri adalah syarat utama untuk sampai ke Hadirat Allah SWT atau bertemu dengan Allah SWT.

Ante perlulah melepaskan ilmu pengetahuan ante, amal ibadah ante, makrifat ante, sifat ante, nama ante, bahkan segala-galanya.

Dengan demikian barulah ante bertemu Allah SWT seorang diri dan tanpa bekal, tanpa apa-apa pun, hanya dengan KurniaNya jua.

MasyaAllah,   

 

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 11, 2009

Manusia dan nafsu

 

 

Dari Anta:

Tulisan Saudara Tahjud.

MANUSIA DAN NAFSU

Rasullullah SAW Bersabda:
“INNA AURAMA YANJURU MIN AKMALIHIS SHALAT PA’IN ZAJAT LAHU NUJIRA FISA IRI AKHMALIHI WAINLAM TAJUD LAHU YANJURU FISAI IN MIN AKHMALIHI BAKDA”

Artinya: Sesungguhnya yang mula-mula dilihat oleh Allah dari amal perbuatan dari anak manusia adalah shalatnya. Apabila shalatnya sempurna maka diterimalah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain. Jika shalatnya tidak sempurna maka ditolaklah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain. (HR ,Al-Hakim).

“YAKTI ALANNAASI ZAMANU YUSALLUUNA WAYA TUSALLUUN “

Artinya : Akan datang kepada manusia suatu zaman, banyak yang shalat padahal sebenarnya mereka tidak Shalat (HR.Ahmad).

FAWAILUL LIL MUSALLIN……..Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.

ALLAZINAHUM AN SHALATIHIM SAHUN

…….(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS Al-Maun: 4,5)

QAD AFLAHA MAN TAJAKKA, WAJA KARAS MARABBIHI FASHALLAH

Artinya :Sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang selalu mensucikan dirinya (jiwanya).
Dan ia ingat nama Tuhannya lalu ia shalat. (AL-A’LQA: 14,15).

MANUSIA

Baca Lagi…

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 7, 2009

Penyaksian mata hati

 

Penyaksian mata hati

Penyaksian hakiki mata hati berlaku apabila salik mengalami suasana (hal) yang menyebabkan dia menafikan kewujudan dirinya dan menetapkan kewujudan Allah. Suasana ini timbul akibat hakikat ketuhanan yang dialami oleh qalbu salik  tersebut.

Mata hati salik hanya melihat kepada wujud Allah, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya. Salik yang berada dalam keadaan sebegini telah fana  daripada sifat-sifat kemanusiaan.

Penyaksian mata hati adalah jauh lebih tinggi daripada ilmu makrifat, kerana penyaksian itu adalah hasil daripada perjalanan panjang, keteguhan hati, dan pengalaman pahit getir yang dialami salik dalam menempuh perjalanan pulang ke kampung akhirat (kembali kepada Allah).

Penyaksian mata hati ini adalah setinggi-tinggi keyakinan terhadap kewujudan Allah, inilah yang dikatakan Isbatul Yakin. Salik yang telah mengalami isbatul yakin, maka syahadahnya bukan lagi  syahadah yang palsu, tetapi beliau  melihat wujud Penciptanya dengan nyata ketika bersyahadah. Hanya syahadah yang sebeginilah yang dapat menjamin keselamatan salik di dunia dan di akhirat.

Pada penyaksian ini salik tidak lagi melihat kepada ketiadaan diri atau kewujudan dirinya, tetapi salik melihat wujud Allah dalam segala sesuatu.

Penyaksian mata hati adalah melihat wujud Allah tanpa dinding, tiada lagi antara, antara salik dan Penciptanya. Tiada lagi antara, antara  kedua-duanya.

QS Al Hadid 4: Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.

Sejajar dengan Firman yang mulia itu,  sememangnya, salik tidak lagi terpisah daripada Allah.  Penyaksian mata hati ialah salik melihat Allah dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu. Pandangan salik terhadap makhluk tidak lagi menutup pandangannya kepada Penciptanya. Di sinilah makam keteguhan yang terdapat di dalamnya ketenangan dan kedamaian yang kekal.

Pada penyaksian mata hati ini, salik tiada lagi ucapan, tiada lagi bahasa, tiada lagi ibarat, tiada lagi ilmu, tiada lagi makrifat, tiada lagi pendengaran, tiada lagi kesadaran, tiada lagi hijab, bahkan segala sesuatu sudah tiada lagi, yang ada hanyalah yang Esa.

Tabir telah tersingkap, Salik memandang Dia tanpa ibarat, tanpa huruf dan tanpa kata-kata. Allah dipandang dengan mata hati (keyakinan) bukan dengan mata yang ada di kepala. Salik yakin bahawa  Allah lah  yang dipandang, walaupun tiada suatu petunjuk  pun untuk diberitahu dan tiada satu pengenalan pun untuk mengenalinya.

Salik yang mengalami suasana ini, beliau kekal bersama Allah pada setiap saat, setiap ruang dan setiap keadaan. Salik yang beginilah yang berzikir (melihat yang diingat) ketika berdiri, duduk dan berbaring, bahkan dalam segala keadaan pun.

MasyaAllah.

« Kiriman-Kiriman Berikutnya - Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 200 other followers