Posted by: hajirikhusyuk | Disember 24, 2009

Lafaz Allah

   

Dari Anta 

Tulisan Saudara Tahjud 

Lafaz  Allah 

Diterangkan di dalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523,  disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis di dalam Al-Quran sebanyak 2,696 tempat (kali). 

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil,  mengapa begitu banyak nama Allah,  (bagi) Dzat yang maha Esa itu,  bagi kita…? 

Allah, Dzat yang Maha Esa, berpesan: 

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “ 

Maksudnya : Allah itu namaku dan Dzatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu,, ia  satu (esa). 

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah empat  kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun di dalam Al-Qurannul karim, dan rahasia Al-Qurannul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”. 

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada dua belas  huruf, dan jika digugurkan  lapan  huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal  empat huruf saja, yaitu Allah. 

Makna  kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung makna dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna. 

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha. Seandainya kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu, atau huruf demi hurufnya. 

1                   Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ), maka akan tersisa tiga huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi, tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk. 

2                   Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ), maka akan tersisa dua  huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi, tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
 

3                  
Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل), maka akan tersisa satu huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi, tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.
 

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya: 

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat. 

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, ke bawah tiada berbatas dan ke atas tiada terhingga. 

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran di bawah ini: 

Ketahui pula,,  jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (di pangkal dan di akhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH). 

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas ke atas atau ke bawah tetapi hanya dibaca dengan titik. 

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri  dua  huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada ahlinya). 

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa  dua  buah huruf di tengahnya, yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu. 

Selanjutnya,  gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Dzat Allah, maksudnya Makrifat  yang semakrifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Makrifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH. 

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya). 

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara di dalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah. 

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada dua puluh lapan  huruf. 

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat dua puluh lapan  huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya. 

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah. 

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu,  maka yang ada hanya satu saja,  yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya. 

Al-Quran yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun ke dalam Suratul Fateha, dan Suratul Fateha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak. 

Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada di atas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) di atas Tasydid adalagi satu huruf Alif. 

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah. 

Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.
 

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).
 

Pertanyaan: 

Siapa ALLAH? Siapa AKU?
Apakah tujuan AKU diciptakan?
Apakah benar ada Tuhan yang perlu disembah atau sebaliknya?
 

Jawaban: 

Allah ada yang Zahir dan ada yang Bathin, maksudnya ada yang nampak, ada yang tersembunyi,
contohnya: ghaib titik, alif yang nyata; titik tersembunyi di dalam alif; atau Ghaib Allah Hamba yang nyata, tetapi esa juga adanya, tampa bercampur,  tampa bertempat.
 

Kelihantan dua nama tetapi satu (esa), yang nampak dinamakan Hamba dan yang tersembunyi (bathin) dinamakan Allah. 

1_  Tujuan Allah mencipta hambanya, sebanarnya Tuhan ingin menampakkan sifatnya di dunia, kalau tidak nampak siapa yang mengenal.
2_ Allah ingin mengenal dirinya dan memuji dirinya yang zahir, yang paling duminan adalah Rasa.
 

Berlakunya Sembah,  atas kenal mengenal,

yang dikenal puji memuji,  yang dipuji,  ya_saya, ya_kamu, 

itulah sebenarnya sembah. 

Salam, 

 Tahjud,  Balikpapan 

 

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 22, 2009

Tajali Allah

 

Dari Anta:

Tulisan saudara Anugerah.

Tajali  

Mengenai tajali Allah,  bisa saja kepada siapa saja. terutama pada rasul-rasul, nabi-nabi, dan wali-wali-Nya. atau kepada siapapun yang dikehendakiNya. Apabila Allah bertajalli pada hambanya yang Ia kasihi, maka tangan, kaki, mata, telinga, hati, dan seluruhnya yang ada diri si hamba adalah tangan dan kaki Allah swt. Banyak hadis yang menerangkan perkara  ini.

Penyaksian terhadap tajalli-nya Tuhan di dunia, menurut pendapat kalangan sufi, bisa saja terjadi. Tetapi bukan dengan mata kepala, melainkan mata hati yang memperolehi  Nur Mukasyafah. Dalam hal ini, yang perlu dicatat adalah penglihatan yang dimaksudkan, bukan melihat Kunhi Dzat-Nya (keadaan rupa, bentuk atau warna dari Dzat Tuhan), yang diistilahkan “bi ghairi kaifin wa hashrin wa dlarbin min mitsalin”. Tetapi pandangan syuhud (mata hati).

Dalam pandangan sufisme Jawa, yang diserap dari ajaran para Wali, sangat kental keyakinan bahwa Tuhan bertajalli kepada hamba-Nya yang dikehendakiNya. Karena itu,  disusunlah sebuah doa yang amat ampuh. Doa itu dibaca saat menjalankan tafakur. Pada zaman Panembahan Senopati Mataram, doa ini diajarkan untuk menjalankan lelaku. Dalam babad tercatat doa tajalli itu sebagai berikut:

Dalam berdo’a kepada Allah, kita boleh memakai bahasa apa saja yang dapat kita mengerti dan pahami karena Allah Maha Tahu bahasa makhluknya apa yang di langit dan di bumi, kecuali dalam shalat kita wajib memakai bahasa Arab. Hal ini tidak terlepas dari hadits Nabi SAW : “Shalatlah seperti engkau melihat shalatku”.

Jalan Tajalli

Untuk mencapai Tajalli, diperlukan  ketekunan.   Bukan hanya itu, jalan yang harus dilaluinya beberapa lembah dan jurang, perjuangan demi perjuangan, kesungguhan, lapar dan dahaga, yang diistilahkan jurang fana, fana-ul fana, fana fillah wa baqa billah. Teori lain mengistilahkan Takhali, Tahalli, berjalan terus sampai pada Tajalli.

Takhalli adalah pengosongan dari sifat-sifat tercela, kemudian menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji yang disebut Tahalli. Pengosongan pikiran dan hati dari segala macam persoalan duniawi dan menghiasinya hanya semata-mata ‘dzikrullah’ (melihat yang diingat). Pengosongan dalam arti ‘fana segala yang fana’ hati dan pikiran itu pun fana, lalu terasa kemanisan, keindahan yang tiada tara. Istilahnya ‘rasa yang tiada berasa’.

Segalanya menjadi jelas, nyata dan terbentang. Itulah ‘mukasyafah’ (pembukaan). Di situlah tajalli Ke-Esa-an, laksana Musa AS yang sedang pingsan, dan Gunung Thursina pun hancur berantakan. Saking nikmat dam indahnya, Musa AS. Tidak mampu untuk berbicara, mana Musa? Mana gunung? Mana Tuhan? Akhirnya seperti apa yang dikatakanoleh Syech Junaid “Hakikat Tauhid (sebanar-benarnya tauhid) tiada lagi tanya, kenapa dan bagaimana.”

Dialog

Kalau Allah sudah bertajalli, maka tidak sekedar tajalli. Tetapi terjadi proses dialog antara hamba dengan Dzat Tuhan. Pembicaraan Allah dengan makhluknya disebut wahyu, untuk para Nabi dan Rasul, dan Ilham bagi manusia biasa. Ilham tidak bisa dijadikan dasar hukum, karena sifatnya sangat pribadi (perlu dirujuk kepada Al Quran dan Hadis).

Wahyu Allah kepada Nabi dan Rasul ada dua macam, yaitu melalui perantaraan malaikat Jibril, yang disebut Al-Quran untuk Nabi Muhammad SAW, dan wahyu langsung ke hati Rasul, yang disebut hadis Qudsi (firman dari Allah dan redaksinya dari Rasulullah).

Sedangkan bisikan Tuhan pada hati manusia biasanya (wali), baik sebagai petunjuk atau perintah, disebut Ilham. Sifatnya pribadi, tidak untuk disiarkan pada umum. Karenanya tidak boleh diceritakan secara sembarangan, terkecuali kepada ahlinya (orang yang memahami), orang yang menggeluti dunia sufi dan memahaminya. Jika diucapkan secara sembarangan, bisa menimbulkan fitnah dan sangat membahayakan.

Allah bisa saja berbicara kepada makhluk-mahlukNya, karena bersifat Mutakalim (Yang Maha Berbicara). Jangankan kepada Nabi dan Rasul, lebah-lebah pun mendapat perintahNya. Membuat sarang dan memproduksi madu di bukit dan di hutan. Ibu Nabi Musa (Maryam) yang manusia biasa, juga diberi wahyu, yang isinya petunjuk untuk menghanyutkan bayi Musa ke sungai Nil.

Banyak kisah auliya’ (wali-wali Allah) yang berdialog dengan Allah. Salah satunya yang terkenal adalah Abu Yazid Al-Bistami. Dalam kitab Ihya’, Imam Ghazali menceritakan karomah kekasih Allah ini, yang bersumber dari Yahya bin Muadz.

Yahya berkata kepada Abu Yazid, “Wahai tuanku, tolong tuan ceritakan pada saya tentang apa saja.” Lalu beliau menjawab: “ Aku ingin ceritakan padamu apa yang kira-kira baik buatmu. Aku telah Allah masukkan ke lapisan yang terbawah, lalu ia kelilingkan aku ke alam Malakut yang terbawah itu, dan Ia perlihatkan kepadaku lapisan bumi dan apa saja pada bagian bawah. Kemudian Allah angkat dan masukkan aku ke orbit yang tinggi dan Ia kelilingkan aku di ketinggian (langit) dan Ia perlihatkan padaku surga-surga dan ‘Arasy. Kemudian diletakkan aku dihadapan-Nya, seraya berkata: “Mintalah kepada-Ku apa saja, Aku akan berikan untukmu.” Aku pun berdatang sembah; “Ya Tuhanku, apapun yang aku lihat sudah cukup sudah cukup baik untukku. Lalu Ia berkata: “Hai Abu Yazid, engkaulah hamba-Ku yang benar, engkau sembah Aku hanya semata-mata karena-Ku.

Tercatat cukup banyak dialog muhadasta (antara seorang hamba yang bukan Nabi atau Rasul) dengan Allah SWT. Sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Buchari dikatakan: “Dari ‘Ady ibni Hatim, beliau berkata, bahwa Nabi telah bersabda: “Seseorang kamu akan bercakap-cakap dengan Allah tanpa ada penterjemah dan dinding yang mendidinginya.”

Wassalam

Anugerah

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 18, 2009

Nama Rahasia

 

Dari Anta:

(Komen sdr Tahjud, ana susun semula, kalau ada tersalah harap ante perbetulkan)

Nama diri Rahsia Allah

Topik yang dipaparkan ini, adalah penting, jikalau pembaca tidak  faham,  harap baca berulang kali sehingga mendapat kefahaman. Kita mulakan dengan satu soalan berkaitan ketuhanan.

Soalan:

Minta penjelasan…

1. Apakah serba Tuhan itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?

2. Apakah serba hamba itu dari segi Zat, Sifat dan atau Af’al Allah?

jawapan soalan 1: tuhan itu adalah dzat semata-mata,,

itu sebabnya ada perbezaan antara tuhan dan makhluk,,
walaupun makhluk daripada dzatnya juga, tetapi makhluk
adalah selepas pentajalian,,

itulah sebabnya jika mahu kembali kepada dzat harus melepaskan segala
pembatasan (takyunat) agar dapat kembali menjadi dzat yang mutlak.

jawapan soalan 2:

hamba atau makhluk adalah adalah hasil daripada pentajalian dzat allah.

Jawapan Sdr Tahjud.

Perkara kita menuntut ilmu..di saat kita sulit memahami sesuatu
 soalan berkaitan ketuhanan.. cubalah tafakurkan insyaallah ada jalanya yang diberikan Allah.. itu adalah Rahmat dari Allah…menjadi sutu temuan..(penemuan yang baru).

Cuba fikirkan, kenapa Tuhan dinamakan Allah?

Jawapannya:

1                   Kerana  ada Dzat, ertinya  diri Allah taala,  tetapi jangan Dzat mutlak semata, dia  mempunyai nama Asli (nama yang Ke-100).

2                   Kerana ada sifat, ertinya ada rupa

3                   Kerana ada asma (nama Asli), baru nama pangkatnya iaitu Tuhan, dan nama jabatannya Allah.

4                   Kerana ada afaal, ertinya kelakuan.

.Segala kesempurnaan dzat, sifat,  asma dan afaal itu terhimpun dan  dinamakan  RAHASIA, (pada nama yang ke-100).


Mari kita perhatikan tentang tajali secara ringkas:

1                   Tajali dzat

2                   Tajali sifat

3                   Tajali Asma

4                   Tajali afaal

Tauhid pula secara ringkas:

Tauhidnya adalah untuk mensyahkan rukun Syahadat, yang berjumlah empat perkara:

  1. Tauhidul dzat, iaitu mengesakan pada zat, iaitu yang ada  pada nama Rahasia (mengesakan dzat pada Rahasia)
  2. Tauhidul sifat, iaitu mengesakan sifat, iatu pada  nama Rahasia
  3. Tauhidul asma, iaitu mengesakan asma, iaitu pada   nama Rahasia
  4. Tauhidul afaal, iaitu mengesakan afaal, iaitu pada nama Rahasia.
     

Walhasil daripada makrifat adalah RASA (merasakan), iaitu dapat  merasakan rasa roh, iaitu seperti apa rasanya.  Dapat pula merasakan rasa Rabbani (ketuhanan), iaitu seperti apa rasanya.

Walaupun 1000 tahun mendefinasikan Allah, jikalau  belum merasakan, maknanya belum berhasil menemui Allah, seperti   mengkhayalkan perkahwinan, tetapi belum berkawin, pasti tidak tahu bagaimana rasanya berkawin.

Teka-teki ini kalau anda temukan, anda antara percaya dan tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin.
JADI KEBENARAN BERADA  DI ANTARA YAKIN DAN TIDAK YAKIN, ANTARA IA DAN TIDAK IA.  TETAPI KALAU SUDAH YAKIN APABILA DI SEBUT NAMA ASLINYA (nama yang ke-100)  MAKA BERGETARLAH HATINYA..

Nama Rahasia Allah nampak aksara arabnya (alif, lam, lam ha) (pada wajah kita)  cubalah (berdiri di hadapan cermin) bercermin.. di  huruf apa hidung, dua lobang hidung, huruf apa pada  kedua mata, hurup apa, mulut dan telinga,  sesudah mulut dan telinga, maka dirahsiakan (nama itu) jangan sampai didengar orang,  setelah tahu nama Rahasia maka  tutuplah mulut (jangan beri tahu), tutup telinga..(agar ia menjadi Rahasia).

Mudah-mudahan faham, perkara ini tidak boleh diberitahu secara langsung, hanya dengan isyarat-isyarat jua.

Kesimpulan Keakusan.

KESIMPULAN AKUAN  PADA   NAMA RAHASIA,  kepada  Allah kena,  kepada  hamba pun kena, sekali  sebut saja sudah terhimpun (pada kedua-duanya) . Segala sesuatu akuan didudukkan pada  nama RAHASIA Allah, (nama yang ke-100),  nama Aslinya disebut ismu al adzim, iaitu sebelum mengetahui Nama Dzat Aslinya (nama yang ke-100):

Sedangkan ALLAH, adalah nama jabatan untuk puji-pujian dan TUHAN ialah nama Pangkatnya..juga untuk puji-pujian.  Nama pangkat dan nama jabatan boleh  dinyaringkan.. tetapi apabila  menduduki   nama RAHASIA tidak boleh dinyaringkan.. ( kerana ia adalah Rahasia).

Seorang salik harus mencari Guru yang murabi mursid untuk menyampaikan Nama Rahasia tersebut..harus dibaiat kerana sifatnya  sangat  Rahasia…. sekalipun (tidak diberitahu kepada ) anak kita sendiri..

Soalan:

Manusia itu tiada daya.. akuan semuanya kerja tuhan, adakah itu jabariyah?

Jawapan:

Untuk ubudiyahnya,  aku .. disandarkan kepada,  lahaulawalaku wata illa billah….(tiada daya dan upayaku…) bagi yang belum mentajalikan asma (belum mengenal nama ke-100) …  makanya  adab ibadah ubudiyahnya ada istigpar.. subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahu akbar, 33x  berjumlah 99, dan tambah  lagi satu nama yang Asli (nama yang ke-100), nama yang Rahasia,, nama yang tidak dinyaringkan. 

Sedangkan, kesimpulan makrifat (yang sudah tahu nama yang ke-100) iaitu adalah perhimpunan kesempurnaan (dzat, sifat, asma dan afaal) pada  nama Rahasia itu.  Mustahil kenal pangkat (Tuhan) dan jabatan (Allah), tetapi tidak kenal nama Aslinya (Rahsianya) …..anak-anak  juga tau..

(Berkaitan pertanyaan ante itu) Betul masih jabariyah..ibarat sekolah tidak ada ijazah..apa lagi belum pernah digurukan..Firman Allah: Tuhan mengajarkan kalam dan apa yang kita tidak ketahui.

Jadi yang tidak diketahui disuruh cari (carilah nama Rahasia itu).

(Perhatian: Nama Rahasia adalah sama dengan Ismu al Adzim, nama Asli Dzat dan nama yang ke-100)

Salam, Tahjud.

Balikpapan.

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 14, 2009

Menuju Maha Pencipta

  

Menuju Maha Pencipta.

Hendaklah salik melintasi alam (dan bukan alam) untuk  menuju kepada Yang Maha Pencipta, sesungguhnya Tuhan  adalah tujuan yang benar dan yang pertama.

Keadaan salik yang tidak dapat melepaskan diri dari alam atau dengan kata lain syirik kepada Allah, adalah umpama seekor unta yang berputar mengelilingi batu penggiling, walaupun jauh ia berjalan, tapi akhirnya kembali ke tempat asalnya ia bermula, bukankah ini perbuatan yang sia-sia dan membuang waktu.

Oleh itu, keluarlah dari perbuatan yang sia-sia itu dan masuklah ke dalam Wujud Yang Maha Pencipta. Bagaimanapun untuk memasuki wujud tersebut terdapat banyak halangan dan penjara yang perlu dilalui, sebelum sampai ke matlamat yang dituju (Wujud Allah).

Yang pertama membebaskan diri daripada penjara alam jasad:

Penjara alam jasad adalah hawa nafsu. Di dalam penjara ini tersedia banyak hidangan yang lazat-lazat, seperti kekuasaan, kemuliaan, puji-pujian, tamak, haloba, dengki, khianat dan sebagainya.

Jika mahu bebas daripada penjara ini perlulah menjauhkan diri daripada perkara yang tidak baik itu, perkara-perkara itu menjadi penghalang kepada perjalanan salik menuju Penciptanya.

Penjara kedua adalah dunia.

Penjara ini mengandungi pelbagai keindahan dan keseronokan yang menjanjikan keabadian yang palsu kepada salik. Penjara ini menghidangkan pelbagai jenis nikmat yang seronok dan menghairahkan. Dengan lain kata inilah yang dikatakan penjara syahwat. Jikalau salik lalai dan panjang angan-angan, maka nampaknya tidak ada kemungkinan salik itu dapat bebas daripada penjara ini.

Penjara ketiga adalah akhirat.

Nampaknya hidangan-hidangan yang disediakan dalam penjara ini lebih enak daripada penjara dunia, di sini hidangannya adalah pahala, syurga dan bidadari yang cantik lagi menggoda. Rantai yang membelenggu  dalam penjara ini adalah kehendak dan keinginan diri sendiri. Menganggap diri sendirilah yang melakukan segala sesuatu sama ada baik atau buruk.

Bagaimanapun, kenderaan yang dapat membebaskan salik daripada penjara ini adalah ilmu, iaitu salik tidak memandang kepada perbuatannya tetapi adalah anugerah daripada  Allah SWT.

Penjara keempat adalah alam malaikat.

Inilah penjara alam maujud yang terakhir. Hidangan yang terdapat dalam penjara ini adalah kehampiran dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Rantai yang membelenggu  salik dalam penjara alam malaikat ini adalah sisa-sisa kehendak diri sendiri dan kesadaran tentang diri sendiri, iaitu segala yang dilakukan adalah atas daya diri sendiri bukan kurniaan Allah SWT.

Untuk keluar dari penjara ini perlulah menghapuskan segala kehendak, keinginan, cita-cita dan angan-angan dengan menyadari bahwa salik adalah kosong, yang ada hanyalah Allah semata-mata.

Penjara kelima adalah ilmu Allah SWT.

Ilmu Allah SWT bukanlah alam, sebagaiman empat penjara yang sebelumnya, yang mana penjara-penjara tersebut adalah alam ciptaan Penciptanya. Ilmu Allah adalah sesuatu yang bersangkutan dengan hal-hal ketuhanan itu sendiri.

Hidangan yang terdapat dalam penjara ilmu ini adalah rahsia-sahsia yang ghaib-ghaib tentang hukum-hukum  Allah SWT. Dalam hal ilmu Allah ini, salik dapat melihat pentadbiran Tuhan yang menggerakkan alam dan semua kejadian yang berlaku di dalamnya. Ilmu Allah sangat luas dan  tidak bersempadan.

Salik yang asyik dengan ilmu Allah akan terpenjara di dalamnya buat selama-lamanya. Oleh itu, ilmu hanya dijadikan sebagai kenderaan menuju kepada Yang Maha Pencipta, tetapi ilmu itu bukanlah sebagai tujuan terakhir.

Penjara keenam adalah makrifatullah.

Ini adalah penjara yang paling kukuh, ilmu Allah dan makrifatullah bukanlah alam maujud, tetapi yang berkaitan dengan hal-hal ketuhanan,  hidangan yang terdapat di sini adalah hakikat-hakikat,  hal-hal dan rahsia-rahsia berkaitan ketuhanan itu sendiri.

Jadi jika ditanya,,

Apakah pencapaian yang paling tinggi oleh ilmu?

Pencapaian paling tinggi ilmu tentang Allah adalah aku tidak tahu, Allah tidak dapat difikirkan, tidak dapat dibayangkan, tidak satu pun yang menyerupainya.

Jikalau ante telah sampai ke tahap ini, ke tahap kebingungan-kebingungan ini maka tahulah ante, bahawa ante telah sampai ke kemuncak yang dapat dicapai oleh ilmu, maka beralih pulalah kenderaan kepada makrifatullah.

Jika ditanya pula,,

Apakah pencapaian yang paling tinggi oleh makrifatullah?

Makrifatullah adalah berkaitan dengan Dzat Yang Maha Mutlak. Jikalau ditanya kepada makrifat apakah pencapaikan kamu yang paling tinggi?

Makrifatullah akan menjawab pencapaian aku yang paling tinggi adalah ke tahap  Dzat Allah,  tetapi aku tidak dapat mengenali Dzat Allah.

 Dzat Allah tidak dapat dikenal oleh sesiapa pun, termasuk para-para nabi dan wali-wali Allah. Makrifat berkata lagi, Dzat  Allah sekarang adalah sebagaimana Dia (Dzat Allah) dahulu juga. Tiada sebarang perubahan yang berlaku terhadapnya.  Bahkan bagi Dzat Allah tiada kini dan dahulu bagiNya.

Nah,,,

Oleh itu, sesiapa yang telah sampai ke makam makrifatullah, janganlah tinggal terpenjara di dalamnya, keluarlah dari penjara makrifatullah, barulah ante boleh sampai ke Hadirat Allah SWT atau bertemu Allah SWT.

Tapi,,,

Bagaimana ante boleh keluar dari penjara makrifatullah?

Keluarlah ante dengan tajrid (penganggalan atau pelepasan). Pelepasan dari segala sesuatu termasuk diri ante sendiri adalah syarat utama untuk sampai ke Hadirat Allah SWT atau bertemu dengan Allah SWT.

Ante perlulah melepaskan ilmu pengetahuan ante, amal ibadah ante, makrifat ante, sifat ante, nama ante, bahkan segala-galanya.

Dengan demikian barulah ante bertemu Allah SWT seorang diri dan tanpa bekal, tanpa apa-apa pun, hanya dengan KurniaNya jua.

MasyaAllah,   

 

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 11, 2009

Manusia dan nafsu

 

 

Dari Anta:

Tulisan Saudara Tahjud.

MANUSIA DAN NAFSU

Rasullullah SAW Bersabda:
“INNA AURAMA YANJURU MIN AKMALIHIS SHALAT PA’IN ZAJAT LAHU NUJIRA FISA IRI AKHMALIHI WAINLAM TAJUD LAHU YANJURU FISAI IN MIN AKHMALIHI BAKDA”

Artinya: Sesungguhnya yang mula-mula dilihat oleh Allah dari amal perbuatan dari anak manusia adalah shalatnya. Apabila shalatnya sempurna maka diterimalah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain. Jika shalatnya tidak sempurna maka ditolaklah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain. (HR ,Al-Hakim).

“YAKTI ALANNAASI ZAMANU YUSALLUUNA WAYA TUSALLUUN “

Artinya : Akan datang kepada manusia suatu zaman, banyak yang shalat padahal sebenarnya mereka tidak Shalat (HR.Ahmad).

FAWAILUL LIL MUSALLIN……..Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.

ALLAZINAHUM AN SHALATIHIM SAHUN

…….(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS Al-Maun: 4,5)

QAD AFLAHA MAN TAJAKKA, WAJA KARAS MARABBIHI FASHALLAH

Artinya :Sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang selalu mensucikan dirinya (jiwanya).
Dan ia ingat nama Tuhannya lalu ia shalat. (AL-A’LQA: 14,15).

MANUSIA

Baca Lagi…

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 7, 2009

Penyaksian mata hati

 

Penyaksian mata hati

Penyaksian hakiki mata hati berlaku apabila salik mengalami suasana (hal) yang menyebabkan dia menafikan kewujudan dirinya dan menetapkan kewujudan Allah. Suasana ini timbul akibat hakikat ketuhanan yang dialami oleh qalbu salik  tersebut.

Mata hati salik hanya melihat kepada wujud Allah, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya. Salik yang berada dalam keadaan sebegini telah fana  daripada sifat-sifat kemanusiaan.

Penyaksian mata hati adalah jauh lebih tinggi daripada ilmu makrifat, kerana penyaksian itu adalah hasil daripada perjalanan panjang, keteguhan hati, dan pengalaman pahit getir yang dialami salik dalam menempuh perjalanan pulang ke kampung akhirat (kembali kepada Allah).

Penyaksian mata hati ini adalah setinggi-tinggi keyakinan terhadap kewujudan Allah, inilah yang dikatakan Isbatul Yakin. Salik yang telah mengalami isbatul yakin, maka syahadahnya bukan lagi  syahadah yang palsu, tetapi beliau  melihat wujud Penciptanya dengan nyata ketika bersyahadah. Hanya syahadah yang sebeginilah yang dapat menjamin keselamatan salik di dunia dan di akhirat.

Pada penyaksian ini salik tidak lagi melihat kepada ketiadaan diri atau kewujudan dirinya, tetapi salik melihat wujud Allah dalam segala sesuatu.

Penyaksian mata hati adalah melihat wujud Allah tanpa dinding, tiada lagi antara, antara salik dan Penciptanya. Tiada lagi antara, antara  kedua-duanya.

QS Al Hadid 4: Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.

Sejajar dengan Firman yang mulia itu,  sememangnya, salik tidak lagi terpisah daripada Allah.  Penyaksian mata hati ialah salik melihat Allah dalam segala sesuatu dan pada setiap waktu. Pandangan salik terhadap makhluk tidak lagi menutup pandangannya kepada Penciptanya. Di sinilah makam keteguhan yang terdapat di dalamnya ketenangan dan kedamaian yang kekal.

Pada penyaksian mata hati ini, salik tiada lagi ucapan, tiada lagi bahasa, tiada lagi ibarat, tiada lagi ilmu, tiada lagi makrifat, tiada lagi pendengaran, tiada lagi kesadaran, tiada lagi hijab, bahkan segala sesuatu sudah tiada lagi, yang ada hanyalah yang Esa.

Tabir telah tersingkap, Salik memandang Dia tanpa ibarat, tanpa huruf dan tanpa kata-kata. Allah dipandang dengan mata hati (keyakinan) bukan dengan mata yang ada di kepala. Salik yakin bahawa  Allah lah  yang dipandang, walaupun tiada suatu petunjuk  pun untuk diberitahu dan tiada satu pengenalan pun untuk mengenalinya.

Salik yang mengalami suasana ini, beliau kekal bersama Allah pada setiap saat, setiap ruang dan setiap keadaan. Salik yang beginilah yang berzikir (melihat yang diingat) ketika berdiri, duduk dan berbaring, bahkan dalam segala keadaan pun.

MasyaAllah.

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 5, 2009

Tauhid penyaksian

Tauhid penyaksian

Tauhid (atau pun keesaan) bagi yang telah menyaksikan (basyariah) Allah terbahagi kepada dua:

1                   Tauhid Dzati (atau Tauhid Rububiyah)

2                   Tauhid Syuhudi (atau Tauhid Uluhiyah)

Cuba kita perhatikan dahulu apa dan bagaimana yang dikatakan Tauhid Dzati itu:

1                   Tauhid Dzati

Salik itu merasakanA keesaan dalam Dzat Yang Esa, ini selalu dirasakan, tidak kira di mana saja ia berada, kepada salik itu tidak mungkin Dzat Yang Esa itu, tidak ada, walaupun sesaat.

Peringkat ini merupakan makam Haqqul Yakin, atau juga disebut wahdah al wujud (esa dalam wujud), bagaimnapun ini baru peringkat rasa,  iaitu salik merasakan Dzat Allah sentiasa bersamanya, atau juga boleh dikatakan salik larut dalam Dzat yang suci itu, yang tinggal hanya Allah.

Bagaimanapun, di atas peringkat ini ada lagi satu peringkat, iaitu peringkat penyaksian tajali Allah.

2                   Tauhid Syuhudi

Setelah salik menempuh fana dan sirna fana itu (baqa), maka muncullah penyaksian… tajalli Illahi.

Pada saat itu  benar-benar penglihatan dan penyaksian salik tertumpu kepada  Allah. (makam Isbatul Yakin). Salik menyaksikan kehadiran Dzat Yang Mutlak… tajalli Dzat Illahi.

Kajian (pelajaran) ini tidak banyak dibincangkan, dan tidak banyak diteorikan, tetapi hanya dipraktiskan oleh mereka, yang dibukakan rahsia ini oleh Allah. Kerana ia termasuk dalam rahsia-rahsia Allah.

Bagaikan kata saudara Tahjud nan mulia, “Allah sangat boleh dikenali, tetapi tidak dapat diperkenalkan”.  

Kerana  apa?

Kerana  Allah  hanya dapat dikenali apabila Dia memperkenalkan DiriNya kepada DiriNya.

Dalam penyaksian Tajalli Dzat Allah ini, jasad tidak bergerak (dilihat: bahasa kiasan) sama-sekali. Jikalau jasad masih bergerak dan fikiran masih bergerak, maka batallah apa yang disaksikan.

Atau dengan lain perkataan, kehadiran Dzat Allah, sebagai kurnia yang dimukasyafahkan (dibukakan) kepada Si Penyaksi menjadi gelap (terhijab).

Sejajar dengan makam ini, sufi terkenal Ibn Arabi, menjelaskanya dalam bentuk syair:

Jika telah fana salik menuju Tuhannya,
Kemudian menjadi sirna kefanaan,
Maka muncullah yang NYATA,
Mata hari dalam kesucian terbit di dalam guanya,
Dzat Yang Maha Wujud dimakam teratas HadiratNya,
Terlihat NYATA,
Terlihat Yang Esa tanpa bilangan tidak terbilang,
Dalam kesaksan keindahan pada peringkat darjat ketajalian
(satu per satu).

 

Semoga bermanfaat

MasyaAllah

 

 

 

 

 

 

Posted by: hajirikhusyuk | Disember 1, 2009

Pertanyaan

 

Di dalam kitab Syarabul Asykin, sebuah kitab lama, karangan sufi terkenal Hamzah Fansuri,  ana dapati ada dua soalan yang sesuai untuk ditanyakan pada sepanjang zaman.

Soalan yang sering ditanya oleh pencari Allah:

  1. Jikalau Dzat Allah pada sekelian semesta alam lengkap, kepada najis dapatkah dikatakan lengkap?
  2. Jikalau Dzat Allah lengkap kepada makhluk (manusia), maka siapakah yang merasai seksa neraka dan siapa pula yang merasai nikmat syurga?

Mari kita lihat, jawapan yang diberikan oleh Sufi terkenal itu:

Soalan pertama:

  1. Jikalau Dzat Allah pada sekelian semesta alam lengkap, kepada najis dapatkah dikatakan lengkap?

Jawapan:

Seperti panas lengkap kepada sekelian alam, kepada najis pun lengkap, kepada benda busuk pun lengkap, kepada baik pun lengkap, kepada jahat pun lengkap, kepada Kaabah pun lengkap, kepada rumah berhala pun lengkap, kepada sekeliannya pun lengkap:

Kepada najis ia tidak akan najis, kepada busuk ia tidak akan busuk, kepada baik ia tidak akan baik, kepada jahat ia tidak akan jahat:

Daripada kaabah tidak ia beroleh kebajikan, daripada rumah berhala tidak ia beroleh kejahatan:

Sedangkan panas lagi demikian, lagikan pula Allah SWT, suci daripada segala suci, maka fikirkanlah  supaya mendapat fahaman yang benar.

Soalan kedua:

  1. Jikalau Dzat Allah lengkap kepada makhluk (manusia), maka siapakah yang merasai seksa neraka dan siapa pula yang merasai nikmat syurga?

Jawapan:

Seperti emas dan asyrafi (kotoran), (emas mengandungi asyrafi), jikalau dibakar asyrafi juga yang hangus terbakar, emas tidak terbakar. Sungguhpun asyrafi dan emas tidak bercerai antara satu sama lain, apabila dibakar asyrafi juga yang hangus, emas tetap baqa (kekal).

Asyrafi umpama makhluk dan emas umpama Khaliq (Tuhan);  apabila dibakar makhluk juga yang hangus dan binasa, Tuhan tetap baqa (kekal).

(ulasan: Hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan, kenyataan ini adalah benar, dan ia tidak perlu diragukan lagi.

Bagi mereka yang berada di makam ini, mereka berpendapat  hamba dan Tuhan itu, tidak esa, tetapi dua. Maka jadilah tuhan dan hamba itu dua. Jikalau demikian mereka tertakluk di bawah hukum qada dan qadar. Maka buat baik dibalas baik dan buat jahat dibalas jahat.

Bagaimanapun, bagi mereka yang makrifatullah, mereka tahu  bahawa hamba dan Tuhan itu esa jua. Sebagai analogi mereka yang makrifatullah ini, umpama ombak kembali menjadi Laut.

Nah,,

Jikalau demikian, adakah mereka tertakluk kepada hukum QADA DAN QADAR? Adakah mereka kena seksa juga?)

Cuba fikirkan.

MasyaAllah.

 

Posted by: hajirikhusyuk | November 28, 2009

Rahsia diam

 

Rahsia diam

Seorang salik  akan memasuki satu keadaan seperti keadaan  orang yang sedang tidur ataupun istilah yang biasa didengar ‘mati sebelum mati’, ataupun dengan istilah yang mudah ‘diam’, iaitu fikiran tidak bergerak, batin dan jasad juga tidak bergerak.

Qs Az Zumar 39:42:

Allah mematikan manusia (memegang rohnya) ketika mati, dan bagi yang belum mati di dalam tidurnya, lalu Allah menahan roh orang yang telah ditetapkan kematiannya dan melepaskan roh orang yang lain (tidur) sampai waktu yang ditentukan.

(Bagi salik yang mencapai tahap ini ia berpeluang untuk memasuki alam ruh dengan izin Allah).

Keadaan diam ini dilakukan supaya pencinta mencapai keadaan ‘mati sebelum mati’ atau ‘keadaan semacam orang tidur’.

Untuk mencapai keadaan ini, diam ini perlulah berhujung kepada hilangnya semua perasaan dan fikiran, sehingga tercapai keadaan ketiadaan rasa apa-apa pun, tetapi masih dalam kesadaran.

Diam itu tidak bergerak
Tidak bergerak itu mati
Mati itu hakikat tiada
Tiada itu adalah kekosongan
(hanya ada Allah)

 

Sebelum salik mencapai makam diam ini, salik  perlu melepasi beberapa tahapan sebelumnya iaitu:

Fana Rasul
Fana Allah
Baqa Allah
Liqa Allah (aspek wujud Allah).

 

Bagi pencinta Allah ingatlah bahawa:

Diam itu adalah singgahsana NYA
Diam itu adalah Hakikat Muhamad (Wahdah)
Diam itu adalah sumber Kun Fayakun
Diam itu mengangkat salik ke makam Insan Kamil Mukamil.

 

Tanpa proses ‘diam’ ‘kepongpong tidak akan menjadi kupu-kupu’.

Jelaslah sangat penting proses  diam ini,, umpama menunaikan haji di Mekah, tanpa wukuf di Arafah,, maka tiadalah haji. (ia tidak boleh diganti dengan dam), perlu dilakukan sendiri.

MasyaAllah.

 

 

 

Posted by: hajirikhusyuk | November 26, 2009

selamat idul adha

 

 

 

 

Salam alaikum,,

Kepada pembaca blog Hajirikhusyuk yang mulia,

Ana mengucapkan berbanyak terima kasih, dan juga selamat Idul Adha,,

yang akan disambut hari ini bersamaan 27 Nov 2009,,

maaf dahir dan batin.

Kiriman-Kiriman Sebelumnya »

kategori